Persaingan ketat antara dua raksasa perlengkapan olahraga, Adidas dan Nike, kembali memanas di tengah perhelatan Piala Dunia. Berdasarkan data awal, Adidas tampaknya berhasil meraih momentum yang lebih besar dibandingkan pesaing utamanya, Nike. Meskipun kedua perusahaan telah menginvestasikan dana besar untuk kampanye pemasaran selama turnamen, Nike sangat bergantung pada ajang ini untuk memulihkan pangsa pasar mereka yang terus tergerus dalam beberapa tahun terakhir.
Sebagai sponsor resmi Piala Dunia yang memiliki asosiasi historis panjang dengan dunia sepak bola, Adidas memposisikan diri secara strategis dengan mensponsori 14 tim nasional dan menjadi penyedia bola resmi pertandingan. Di sisi lain, Nike tidak tinggal diam dengan melengkapi 12 tim nasional, berkolaborasi dengan desainer streetwear lokal, serta melakukan peremajaan stok barang dagangan di lebih dari 5.000 gerai di seluruh dunia.
Drake MacFarlane, analis riset di M Science, menyatakan bahwa meskipun kedua merek mendapatkan keuntungan dari peningkatan bisnis pakaian olahraga, Adidas saat ini menikmati keuntungan yang lebih signifikan. Data menunjukkan bahwa belanja produk pakaian Adidas melonjak hingga 70 persen pada bulan Mei dibandingkan tahun sebelumnya, yang didorong oleh tingginya permintaan jersey menjelang turnamen dimulai.
Data lalu lintas pengunjung toko juga memberikan gambaran serupa. Laporan dari Placer.ai menunjukkan bahwa kunjungan ke toko-toko Adidas di Amerika Serikat melonjak 47 persen selama minggu pertama Piala Dunia dibandingkan rata-rata tahun 2026. Sebaliknya, toko ritel Nike hanya mencatat kenaikan 11 persen. Bahkan, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, kunjungan ke toko Adidas meningkat 16 persen, sementara Nike justru mengalami penurunan.
Elizabeth Lafontaine, direktur riset Placer.ai, mencatat bahwa Adidas berhasil menempatkan diri di posisi teratas dalam benak konsumen melalui aktivasi toko yang efektif. Bukti nyata terlihat dari data ritel JD Sports, di mana jersey tim nasional Meksiko yang diproduksi Adidas menjadi produk terlaris. Sementara itu, Nike mendapatkan sedikit angin segar dengan laporan LSEG yang menunjukkan bahwa 28 persen stok merchandise mereka di AS terjual habis, jauh melampaui tingkat penjualan Adidas sebesar 7 persen.
Di sektor alas kaki, persaingan tetap sangat ketat. Analisis Reuters mengungkapkan bahwa 232 dari 528 pemain starter di Piala Dunia mengenakan sepatu bola Nike, sedikit lebih unggul dibandingkan Adidas dengan 218 pemain. Meski Nike tetap memiliki visibilitas yang kuat di lapangan, tantangan besar tetap membayangi perusahaan ini karena penurunan permintaan untuk lini produk klasik seperti Dunk dan Air Jordan, ditambah dengan munculnya kompetitor baru di pasar sepatu olahraga global.