Batik bukan sekadar warisan tekstil bagi Abel Hesed Tandadjaja; ia adalah identitas budaya yang telah melekat sejak masa kecilnya melalui bisnis keluarga. Berangkat dari latar belakang tersebut, pria berusia 33 tahun ini meluncurkan Batik Wolter pada tahun 2019. Berbasis di Jakarta, merek fesyen ini berfokus pada pelestarian batik tulis, sebuah teknik pembuatan batik tradisional yang menggunakan canting dan malam dalam proses pewarnaan yang sangat rumit.
Nama 'Wolter' sendiri diambil dari pahlawan nasional Indonesia, Robert Wolter Mongisidi, sekaligus sebagai penghormatan atas memori masa kecil Abel yang tumbuh besar di Jalan Wolter Mongisidi, Solo. Inspirasi mendirikan jenama ini muncul saat ia masih berkarier di dunia korporat. Saat itu, ia menyadari adanya perbedaan kualitas yang mencolok antara batik yang ia kenakan dengan batik tulis premium yang dipakai oleh para eksekutif senior, yang memicu keinginannya untuk menghadirkan batik berkualitas tinggi bagi generasi muda.
Bagi Batik Wolter, tidak ada jalan pintas dalam menciptakan sebuah karya. Berbeda dengan batik cetak atau batik cap yang mengandalkan pola berulang, batik tulis menuntut ketelitian tinggi melalui proses manual yang memakan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Setiap goresan canting mencerminkan sentuhan manusia, di mana ketidakteraturan pada motif justru menjadi tanda autentisitas yang membedakannya dari produk massal pabrikan.
Untuk menjaga keberlanjutan tradisi, Batik Wolter berkolaborasi dengan para perajin lokal di berbagai sentra batik seperti Pekalongan, Yogyakarta, Solo, Cirebon, dan Lasem. Banyak dari para perajin ini merupakan generasi penerus yang menjaga keahlian turun-temurun. Dengan menggabungkan teknik tradisional dengan desain kontemporer, merek ini berhasil menghadirkan koleksi yang relevan dengan selera fashion masa kini.
Saat ini, Batik Wolter telah menawarkan lebih dari 1.000 desain yang mencakup berbagai kategori pakaian, mulai dari kemeja formal, jaket, hingga setelan jas lengkap. Mereka juga melayani pesanan khusus (bespoke) baik untuk pria maupun wanita, memastikan bahwa setiap pelanggan mendapatkan karya seni yang unik dan personal. Pendekatan ini terbukti efektif dalam memikat audiens yang lebih muda.
Melalui langkah ini, Abel berharap Batik Wolter dapat terus menjaga relevansi batik di tengah derasnya arus fesyen cepat (fast fashion). Dengan mengedepankan kualitas dan nilai sejarah, ia ingin membuktikan bahwa batik tulis tetap bisa tampil modern, elegan, dan berkelas, sekaligus memberikan dukungan ekonomi yang berkelanjutan bagi para perajin batik di seluruh pelosok Indonesia.