Sejak popularitasnya melonjak di tahun 1970-an, frozen yoghurt atau 'froyo' kerap dipasarkan sebagai alternatif yang lebih sehat dibandingkan es krim konvensional. Iklan dari era 1990-an bahkan menggaungkan narasi bahwa varian rendah kalori dan bebas lemak dari produk ini menawarkan kenikmatan tanpa rasa bersalah. Kini, tren tersebut kembali bangkit, dengan asosiasi industri mencatat lonjakan jumlah gerai frozen yoghurt di Amerika Serikat hingga 50 persen dalam satu tahun terakhir.
Namun, di balik popularitasnya yang kembali meroket di media sosial, muncul pertanyaan mendasar: apakah frozen yoghurt benar-benar memiliki keunggulan nutrisi dibandingkan es krim? Para ahli gizi memperingatkan bahwa konsumen perlu lebih kritis dalam membedakan antara klaim pemasaran dengan fakta nutrisi yang sebenarnya terkandung dalam produk tersebut.
Perbedaan utama terletak pada komposisi bahan dasar. Berbeda dengan es krim yang diatur secara ketat harus mengandung setidaknya 10 persen lemak susu, frozen yoghurt memiliki komposisi yang lebih bervariasi. Produk ini umumnya mengandung 3 hingga 4 persen lemak dan dibuat dari susu fermentasi yang mengandung kultur bakteri hidup. Proses fermentasi inilah yang memberikan rasa asam khas pada frozen yoghurt.
Meski demikian, para pakar teknologi pangan menekankan bahwa sebagian besar frozen yoghurt yang dijual di pasar saat ini termasuk dalam kategori makanan ultra-proses. Untuk mendapatkan tekstur yang lembut dan konsisten, produsen sering menambahkan zat penstabil seperti guar gum atau xanthan gum, serta pemanis tambahan seperti sirup jagung untuk mengimbangi rasa asam dari yoghurt.
Dari sisi profil nutrisi, frozen yoghurt memang cenderung memiliki kandungan kalori dan lemak jenuh yang lebih rendah dibandingkan es krim. Namun, keunggulan ini sering kali hilang ketika konsumen menambahkan berbagai macam topping. Penambahan sirup, cokelat, atau permen pada frozen yoghurt dapat dengan mudah meniadakan selisih kalori yang ada, sehingga nilai gizi totalnya bisa setara atau bahkan lebih tinggi dari es krim.
Selain itu, meskipun banyak merek mengklaim adanya kandungan probiotik yang baik untuk kesehatan pencernaan, manfaat tersebut tidak selalu terjamin pada produk yang telah melalui proses pembekuan ekstrem. Oleh karena itu, para ahli menyarankan konsumen untuk tetap mengonsumsi makanan penutup ini dalam porsi yang wajar dan tidak menjadikannya sebagai pengganti nutrisi utama, alih-alih sekadar tergiur oleh label 'sehat' yang sering disematkan dalam pemasaran.