Aplikasi kencan populer, Bumble, dikabarkan tengah mengambil langkah strategis untuk mengeksplorasi opsi penjualan perusahaan. Langkah ini diambil di tengah tantangan berat yang dihadapi perusahaan, terutama terkait penurunan performa bisnis yang signifikan sepanjang tahun 2025.
Dalam laporan kinerja keuangan terbarunya, Bumble mengungkapkan adanya penurunan jumlah pengguna berbayar yang cukup tajam. Tercatat, jumlah pengguna yang berlangganan layanan mereka merosot lebih dari 11 persen, sehingga kini menyisakan sekitar 3,7 juta pengguna aktif berbayar secara global.
Penurunan basis pengguna berbayar ini secara langsung berdampak pada pendapatan perusahaan. Bumble melaporkan bahwa total pendapatan mereka mengalami kontraksi hampir 10 persen, dengan angka perolehan berada di kisaran 966 juta dolar AS. Angka ini mencerminkan perlambatan yang nyata dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya.
Menghadapi tren penurunan tersebut, manajemen Bumble dikabarkan telah menggandeng bank investasi terkemuka, Morgan Stanley. Peran Morgan Stanley dalam hal ini adalah untuk membantu perusahaan meninjau opsi strategis, termasuk kemungkinan mencari pembeli potensial yang dapat mengakuisisi entitas tersebut.
Situasi ini menandai titik balik yang cukup krusial bagi Bumble, yang selama ini dikenal sebagai salah satu pemain utama dalam industri aplikasi kencan yang mengedepankan pemberdayaan perempuan. Persaingan yang semakin ketat di pasar aplikasi kencan global menjadi salah satu faktor yang membebani pertumbuhan perusahaan.
Hingga saat ini, pihak Bumble belum memberikan detail lebih lanjut mengenai proses negosiasi atau potensi kesepakatan yang mungkin terjadi. Namun, langkah ini menegaskan bahwa perusahaan sedang berada di bawah tekanan besar untuk mencari jalan keluar demi menjaga nilai pemegang saham di tengah iklim industri yang semakin kompetitif.