Teknologi

China Berhasil Mengungguli AS dengan Superkomputer Tercepat di Dunia

China Berhasil Mengungguli AS dengan Superkomputer Tercepat di Dunia

Ringkasan

  • China resmi merebut posisi pertama dalam daftar TOP500 dengan superkomputer LineShine, mengalahkan El Capitan milik Amerika Serikat.

China secara resmi kembali menduduki posisi puncak dalam daftar TOP500, sebuah peringkat bergengsi yang mengukur kekuatan komputasi superkomputer di seluruh dunia. Sistem terbaru mereka, yang diberi nama LineShine dan ditempatkan di Pusat Superkomputer Nasional di Shenzhen, berhasil menggeser El Capitan milik Amerika Serikat yang sebelumnya memegang rekor tersebut sejak tahun 2024.

Keberhasilan ini menandai tonggak sejarah penting bagi China, mengingat negara tersebut telah absen dari posisi pertama selama hampir satu dekade. Berdasarkan pengujian standar TOP500 yang mengevaluasi kecepatan teoretis, kinerja dunia nyata, serta efisiensi energi, LineShine terbukti mengungguli kapasitas pemrosesan El Capitan dengan selisih lebih dari 20 persen.

Secara teknis, LineShine merupakan pencapaian rekayasa yang mengesankan dengan konsumsi daya sekitar 42,2 megawatt. Superkomputer ini mampu menghasilkan performa komputasi sebesar 2.198 exaflops, yang berarti sistem tersebut sanggup menjalankan lebih dari 2 kuintiliun operasi per detik. Angka ini menegaskan dominasi baru Beijing dalam lanskap teknologi global.

Salah satu aspek paling unik dari LineShine adalah arsitekturnya yang tidak menggunakan unit pemrosesan grafis (GPU) seperti superkomputer generasi terbaru lainnya. Sebaliknya, sistem ini sepenuhnya mengandalkan unit pemrosesan pusat (CPU) berbasis platform LingKun dengan sekitar 45.000 prosesor LX2. Setiap prosesor dilengkapi dengan 304 inti yang beroperasi pada kecepatan 1,55 GHz.

Seluruh infrastruktur LineShine dibangun menggunakan perangkat keras dan lunak buatan dalam negeri China. Komunikasi antar node dioptimalkan melalui jaringan berkecepatan tinggi bernama LingQi untuk meminimalkan latensi, sementara sistem operasinya menggunakan Kylin OS, sebuah platform berbasis Linux yang telah menjadi standar dalam infrastruktur komputasi pemerintah dan ilmiah di China.

Pencapaian ini mengirimkan pesan kuat kepada dunia, terutama Amerika Serikat, bahwa industri teknologi China mampu berkembang pesat meskipun dihadapkan pada berbagai restriksi ekspor dan hambatan perdagangan. Di tengah kebijakan proteksionisme yang ketat, keberhasilan LineShine membuktikan ketahanan inovasi China dalam mengembangkan teknologi komputasi tingkat tinggi secara mandiri tanpa ketergantungan pada komponen asing.

Mengapa Ini Penting

Peristiwa ini menunjukkan pergeseran peta kekuatan teknologi global yang semakin terpolarisasi antara China dan AS. Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat penting akan perlunya kemandirian teknologi serta strategi adaptasi dalam menghadapi perang dagang chip global yang dapat memengaruhi ketersediaan perangkat keras di pasar domestik.

Sumber Asli
Wired
Tanggal
28 Juni 2026
Waktu Baca
2 menit