Berita

China Ungguli Amerika Serikat dalam Komputasi Super dengan Sistem LineShine

China Ungguli Amerika Serikat dalam Komputasi Super dengan Sistem LineShine

Ringkasan

  • China resmi meluncurkan superkomputer LineShine yang mengandalkan arsitektur CPU ARMv9, mencatatkan rekor performa dunia dan menantang dominasi AS.

China kembali mencatatkan pencapaian signifikan dalam peta persaingan teknologi global setelah memperkenalkan sistem superkomputer terbaru bernama LineShine. Perangkat ini berhasil memecahkan rekor performa komputasi, sekaligus mengukuhkan posisi China sebagai kekuatan utama dalam pengembangan infrastruktur komputasi berperforma tinggi (High-Performance Computing/HPC) di dunia.

Keunggulan utama dari arsitektur LineShine terletak pada desainnya yang unik dibandingkan sepuluh sistem superkomputer teratas lainnya. Berbeda dengan tren industri saat ini yang sangat bergantung pada akselerator perangkat keras khusus seperti GPU, LineShine sepenuhnya mengandalkan prosesor CPU. Sistem ini dipersenjatai dengan lebih dari 45.000 unit prosesor Lineshine-LX2 yang berbasis arsitektur ARMv9, dengan total mencapai hampir 13,8 juta core komputasi.

Dalam aspek operasional, sistem ini menjalankan sistem operasi Kylin OS, yang merupakan turunan dari Linux yang dikembangkan secara lokal di China. Untuk memastikan kelancaran komunikasi data dalam skala masif, pihak pengembang menyematkan teknologi interkoneksi eksklusif bernama LingQi. Teknologi ini dirancang khusus untuk mengelola throughput data yang sangat besar di antara ribuan node yang ada di dalam klaster tersebut.

Secara performa, LineShine menunjukkan dominasi dalam perhitungan presisi ganda mentah. Namun, untuk tolok ukur spesifik kecerdasan buatan (AI), sistem ini berada di peringkat keempat, mengingat sistem berbasis akselerator khusus cenderung lebih unggul dalam tugas-tugas inferensi AI yang kompleks. Meskipun demikian, pencapaian ini membuktikan bahwa arsitektur berbasis CPU murni masih memiliki potensi besar dalam komputasi ilmiah skala besar.

Dari sisi efisiensi energi, LineShine mencatatkan angka 52,1 GFlops per watt. Angka ini menempatkan sistem tersebut di atas superkomputer berbasis Intel seperti Aurora, meskipun masih berada di bawah sistem yang dilengkapi dengan akselerator Nvidia. Mengingat konsumsi daya total mencapai 42,22 megawatt, angka efisiensi tersebut menjadi tolok ukur penting bagi pengembangan superkomputer masa depan.

Kehadiran LineShine menjadi bukti nyata kemampuan China dalam membangun klaster komputasi berperforma dunia menggunakan ekosistem teknologi mandiri. Di tengah ketegangan geopolitik terkait rantai pasok semikonduktor, keberhasilan China mengembangkan prosesor berbasis ARMv9 sendiri menandai kemandirian teknologi yang kian matang, sekaligus menjadi tantangan baru bagi dominasi Amerika Serikat dalam sektor superkomputasi global.

Mengapa Ini Penting

Kemajuan ini menunjukkan pergeseran paradigma bahwa kemandirian teknologi berbasis CPU dapat menyaingi dominasi GPU dalam komputasi skala besar. Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi referensi krusial dalam merancang strategi kedaulatan digital dan infrastruktur data nasional yang tidak sepenuhnya bergantung pada satu vendor global.

Sumber Asli
4sysops
Tanggal
23 Juni 2026
Waktu Baca
3 menit