Teknologi

Perkuat Pengawasan Perbatasan, Ditjen Imigrasi Gandeng ITB Kembangkan Pagar Digital Berbasis Drone

Perkuat Pengawasan Perbatasan, Ditjen Imigrasi Gandeng ITB Kembangkan Pagar Digital Berbasis Drone

Ringkasan

  • Ditjen Imigrasi bekerja sama dengan ITB mengembangkan sistem Pagar Digital berbasis drone untuk memperketat pengawasan di perbatasan Indonesia yang rawan perlintasan ilegal.

Direktorat Jenderal Imigrasi (Ditjenim) resmi menjalin kolaborasi strategis dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk menginisiasi sistem pengamanan perbatasan yang disebut sebagai Pagar Digital. Inovasi ini memanfaatkan teknologi drone karya anak bangsa guna meminimalisir celah keamanan di wilayah perbatasan Indonesia yang membentang sepanjang 3.111 kilometer.

Direktur Jenderal Imigrasi, Hendarsam Marantoko, mengungkapkan bahwa sistem ini difokuskan pada area-area yang memiliki risiko tinggi perlintasan ilegal. Prioritas utama mencakup wilayah darat di Kalimantan yang berbatasan langsung dengan Malaysia, Papua yang berbatasan dengan Papua Nugini, serta wilayah Nusa Tenggara Timur yang bersinggungan dengan Timor Leste. Selain itu, pengawasan laut juga akan diperketat di sekitar Kepulauan Riau dan Batam.

Saat ini, infrastruktur resmi seperti Pos Lintas Batas Negara (PLBN) masih sangat terbatas dibandingkan dengan luas wilayah yang harus diawasi. Dari total ribuan kilometer garis perbatasan, hanya tersedia 18 PLBN dan 38 pos lintas batas lainnya, di mana sebagian besar di antaranya belum aktif atau terkendala perjanjian bilateral. Keterbatasan ini membuat jalur-jalur tikus menjadi titik krusial bagi penyelundupan manusia dan barang.

Tantangan pengawasan di lapangan semakin kompleks dengan adanya ancaman tindak pidana perdagangan orang (TPPO) serta risiko keamanan personel di area konflik. Pagar Digital dirancang sebagai solusi berbasis teknologi untuk memberikan kesadaran situasional (situational awareness) secara real-time. Sistem ini mengombinasikan dua jenis drone, yakni tipe HALE (high-altitude long-endurance) untuk pemantauan jarak jauh selama 24 jam dan Drone Mantis untuk intersepsi taktis.

Teknologi drone yang dikembangkan ITB bersama PT Dirgantara Indonesia ini memiliki keunggulan operasional karena didukung oleh panel surya, memungkinkan durasi terbang nonstop yang sangat efisien. Ketika sistem mendeteksi pergerakan di area titik buta (blind spot), koordinat lokasi akan langsung dikirimkan ke pos imigrasi atau petugas keamanan terdekat untuk penindakan cepat.

Langkah ini menandai transformasi digital dalam sistem pengamanan negara. Dengan mengintegrasikan teknologi drone ke dalam operasional imigrasi, pemerintah berharap dapat meningkatkan efektivitas pengawasan tanpa harus menempatkan terlalu banyak personel di medan yang sulit dan berbahaya. Pagar Digital menjadi bukti nyata bahwa inovasi teknologi lokal mampu menjawab tantangan kedaulatan negara yang strategis.

Mengapa Ini Penting

Penerapan teknologi drone buatan lokal untuk pengawasan perbatasan menunjukkan kemandirian industri pertahanan dan keamanan nasional. Inovasi ini tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional imigrasi dalam menangani isu TPPO dan penyelundupan, tetapi juga memberikan preseden positif bagi kolaborasi antara akademisi dan pemerintah dalam mengatasi masalah keamanan strategis.

Sumber Asli
Antaranews
Tanggal
1 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit