Raksasa teknologi global Amazon mencatat lonjakan signifikan dalam jejak karbon perusahaan seiring dengan masifnya investasi dan pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Pertumbuhan kebutuhan komputasi yang haus daya ini dilaporkan telah melampaui berbagai efisiensi yang telah diterapkan perusahaan, menimbulkan tantangan besar bagi target keberlanjutan yang telah dicanangkan sebelumnya.
Dampak lingkungan dari ekspansi ini tidak hanya terbatas pada emisi karbon, tetapi juga mencakup konsumsi air yang sangat besar. Data internal Amazon mengungkapkan bahwa pusat data perusahaan telah menyedot sebanyak 2,48 miliar galon air pada tahun lalu. Penggunaan air ini krusial untuk proses pendinginan server berdensitas tinggi yang menopang layanan AI mereka, meskipun Amazon mengklaim telah mencapai peningkatan 20 persen dalam efisiensi penggunaan air.
Di sisi lain, Amazon tetap bersikeras menjaga komitmen mereka untuk mencapai status netral karbon pada tahun 2040 dan menjadi perusahaan yang positif air (water positive) pada tahun 2030. Namun, janji-janji tersebut kini berada di bawah pengawasan ketat setelah data menunjukkan tren yang bertolak belakang. Kritikus internal dan kelompok advokasi lingkungan berpendapat bahwa strategi perusahaan saat ini lebih mengutamakan kecepatan peluncuran layanan AI daripada tanggung jawab terhadap lingkungan.
Kritik semakin tajam mengingat total emisi perusahaan telah melonjak hingga 58 persen sejak Amazon pertama kali mengumumkan janji iklimnya pada tahun 2019. Angka ini menjadi bukti nyata bahwa langkah-langkah mitigasi yang diambil selama ini belum mampu mengimbangi skala ekspansi infrastruktur yang dilakukan untuk mendukung dominasi di pasar kecerdasan buatan global.
Fenomena yang dialami Amazon ini mencerminkan tren industri teknologi secara lebih luas. Penyedia layanan cloud besar lainnya juga menghadapi dilema serupa, di mana pertumbuhan AI yang sangat cepat memaksa mereka untuk terus menambah kapasitas pusat data yang boros energi. Hal ini menciptakan perdebatan panjang mengenai sejauh mana inovasi teknologi dapat sejalan dengan pelestarian lingkungan.
Ke depannya, Amazon dituntut untuk melakukan inovasi yang lebih radikal, tidak hanya pada perangkat lunak AI, tetapi juga pada efisiensi perangkat keras dan sumber energi pusat data mereka. Tanpa perubahan strategi yang signifikan, target keberlanjutan perusahaan berisiko menjadi sekadar wacana di tengah ambisi besar untuk memenangkan perlombaan teknologi kecerdasan buatan.