Kelompok aktivis kemanusiaan Global Sumud Flotilla secara resmi mengonfirmasi pembebasan empat anggota mereka yang sempat ditahan di Libya selama kurang lebih satu bulan. Para aktivis tersebut, yang terdiri dari Achraf Khoja asal Tunisia, Matias Rodriguez asal Uruguay, serta dua warga negara Italia yakni Domenico Centrone dan Leonarda Alberizia, dilaporkan telah tiba dengan selamat di Tunis.
Organisasi tersebut menyatakan dalam sebuah pernyataan resmi pada hari Rabu bahwa keempatnya kini telah berada dalam kondisi aman. Selain itu, pihak Global Sumud Flotilla juga memberikan kabar optimis mengenai enam aktivis lainnya yang masih berada dalam penahanan. Mereka diperkirakan akan segera dibebaskan dalam kurun waktu 24 jam ke depan setelah melalui proses negosiasi dan koordinasi intensif.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Italia, Antonio Tajani, menyambut baik kabar pembebasan ini. Ia mengonfirmasi bahwa dua warga negara Italia beserta Matias Rodriguez, yang juga memegang kewarganegaraan Italia, telah diserahkan kepada konsul Italia di Benghazi. Pemerintah Italia memastikan bahwa mereka akan segera dipulangkan ke negara asal pada hari Rabu setelah rangkaian proses diplomatik selesai.
Kasus penahanan ini bermula pada 24 Mei 2026, ketika sepuluh aktivis kemanusiaan dari delapan negara berbeda ditangkap oleh kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan Libyan Arab Armed Forces (LAAF) pimpinan Khalifa Haftar. Penangkapan terjadi saat para aktivis sedang dalam perjalanan menuju Sirte untuk menegosiasikan izin lintas konvoi bantuan kemanusiaan yang ditujukan bagi warga Gaza.
Amnesty International mencatat bahwa para aktivis sempat mengalami penghilangan paksa selama dua hingga sembilan hari sebelum akhirnya diinterogasi oleh jaksa setempat. Mereka didakwa dengan tuduhan berkumpul tanpa izin dan harus menjalani penahanan pra-sidang. Sebagai bentuk protes terhadap penahanan yang dianggap tidak adil tersebut, para aktivis sempat melakukan aksi mogok makan selama berada di dalam tahanan.
Insiden ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas di mana ratusan aktivis mencoba menembus blokade Israel terhadap Jalur Gaza. Sementara sebagian besar aktivis ditangkap di perairan internasional, kelompok yang ditahan di Libya ini memilih jalur darat untuk menyalurkan bantuan. Pembebasan ini menjadi titik terang bagi kampanye solidaritas internasional di tengah situasi kemanusiaan yang terus memburuk di wilayah konflik Gaza.