Komisi Eropa saat ini secara terang-terangan menunjukkan sinyal kuat untuk memulai perang dagang terhadap China. Niat Brussels untuk menahan gelombang yang disebut sebagai 'China Shock 2.0'—yakni membanjirnya ekspor produk bersubsidi dari China seperti kendaraan listrik (EV), panel surya, hingga baterai—kini bukan lagi sekadar retorika, melainkan sebuah keputusan yang tampak akan segera diimplementasikan.
Jika membandingkan ketegangan perdagangan saat ini antara Uni Eropa dan China dengan konflik perdagangan antara Eropa dan Jepang pada era 1970-an hingga 1980-an, terdapat kemiripan yang mencolok namun juga perbedaan mendasar dari sisi geopolitik, teknologi, dan intervensi negara. Dalam kedua periode tersebut, industri Eropa memiliki ketakutan yang sama bahwa impor dari pusat manufaktur Asia yang sedang tumbuh akan menggerogoti basis produksi domestik mereka.
Pada dekade 1970-an dan 1980-an, Eropa menghadapi persaingan sengit dari ekspor Jepang. Perusahaan-perusahaan asal Jepang berhasil merebut pangsa pasar melalui kualitas tinggi, efisiensi produksi, dan penetapan harga yang kompetitif. Saat itu, para pembuat kebijakan di Eropa sangat khawatir akan terjadinya deindustrialisasi di sektor-sektor strategis seperti otomotif, elektronik konsumen, dan peralatan mesin.
Situasi serupa kini terulang kembali. Produsen Eropa di sektor kendaraan listrik, baterai, panel surya, baja, dan produk industri lainnya menghadapi persaingan ketat dari perusahaan China yang telah menjadi pemimpin global di sektor strategis tersebut. Kehilangan kapasitas produksi dan kepemimpinan teknologi membuat Eropa khawatir, sehingga mereka merespons dengan langkah-langkah proteksionis dan anti-dumping.
Langkah-langkah yang diambil terhadap Jepang di masa lalu meliputi kuota impor, pembatasan ekspor sukarela, dan investigasi anti-dumping. Sementara terhadap China, tindakan yang diambil jauh lebih agresif, mencakup bea masuk anti-dumping, investigasi anti-subsidi, tarif khusus untuk kendaraan listrik, serta pengawasan yang lebih ketat terhadap investasi China di Eropa.
Perbedaan krusial terletak pada posisi geopolitiknya. Meskipun perusahaan Jepang pada masa lalu mendapatkan dukungan kebijakan industri dari pemerintahnya, mereka tetap dianggap sebagai sekutu politik Barat dan menikmati kebijakan tarif yang menguntungkan di Amerika Serikat. Sebaliknya, China saat ini dipandang oleh Eropa sebagai 'saingan sistemik', yang membuat ruang diplomasi perdagangan menjadi jauh lebih sempit dan penuh ketegangan.