Jakarta - Fenomena menyalahkan korban atau victim blaming dalam kasus kekerasan sering kali muncul di ruang publik, termasuk media sosial. Psikolog klinis Gisella Tani Pratiwi, M.Psi., menegaskan bahwa perilaku ini tidak muncul begitu saja, melainkan dipicu oleh berbagai faktor psikologis dan sosial yang kompleks, di mana kurangnya empati menjadi akar permasalahan utama.
Menurut Gisella, banyak masyarakat yang cenderung bersikap abai karena terbebani oleh kesibukan dan tekanan hidup masing-masing. Hal ini menyebabkan mereka kehilangan kepekaan saat melihat situasi yang berada di luar nalar atau pengalaman pribadi mereka, sehingga secara impulsif melontarkan komentar yang menyudutkan korban tanpa mempertimbangkan penderitaan yang sedang dialami.
Selain minimnya empati, kurangnya literasi mengenai dinamika hubungan yang toksik menjadi pemicu lainnya. Banyak orang yang tidak pernah mengalami kekerasan dalam relasi merasa sulit memahami mengapa korban tidak segera meninggalkan pelaku. Mereka sering kali menggunakan logika sederhana bahwa korban seharusnya menjauh jika disakiti, tanpa memahami adanya manipulasi psikologis yang rumit.
Dalam hubungan yang penuh kekerasan, pelaku sering kali melakukan dominasi, monopoli akses, hingga manipulasi emosional, ekonomi, maupun seksual. Kondisi ini membuat korban terjebak dalam ketergantungan yang tidak terlihat oleh orang luar. Kurangnya pemahaman terhadap dinamika kekuasaan ini sering kali membuat pengamat luar memberikan penilaian yang tidak adil kepada korban.
Pengguna media sosial sering kali berinteraksi tanpa filter yang memadai sebelum mengomentari kasus kekerasan. Gisella menekankan bahwa ketiadaan kemampuan menyaring informasi dan kurangnya respons yang bijak dapat memperburuk kondisi psikologis korban yang sudah menderita. Komentar-komentar tajam di ruang digital dapat menjadi bentuk kekerasan sekunder bagi korban.
Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk selalu mengedepankan empati dan kesadaran diri sebelum memberikan tanggapan terhadap informasi mengenai kasus kekerasan. Penting bagi publik untuk menyadari bahwa kita tidak mengetahui seluruh detail kejadian yang dialami orang lain, sehingga menahan diri dari perilaku menghakimi adalah langkah krusial dalam menciptakan ruang publik yang lebih aman dan suportif bagi penyintas.