Internasional

Foto Tahanan Palestina yang Disiksa Picu Penderitaan Dua Ibu di Gaza

Foto Tahanan Palestina yang Disiksa Picu Penderitaan Dua Ibu di Gaza

Ringkasan

  • Foto seorang tahanan Palestina yang disiksa memicu penderitaan bagi dua ibu di Gaza yang meyakini pria tersebut adalah putra mereka.

Sebuah foto yang bocor di media sosial memperlihatkan seorang tahanan Palestina dalam kondisi mata tertutup, hampir telanjang, dan terikat dengan posisi yang sangat menyiksa. Gambar yang sempat beredar di Instagram dengan keterangan tulisan Ibrani 'selamat pagi' ini telah memicu trauma mendalam bagi dua ibu di Gaza, Rana Abu Nassar dan Joudeh Al-Ghoul. Keduanya meyakini dengan penuh keyakinan bahwa pria dalam foto tersebut adalah putra mereka yang hilang.

Dalam foto tersebut, korban terlihat dengan tangan terikat di belakang punggung, sementara kaki kanannya diikat ke sudut ranjang. Sebuah kayu diletakkan di sepanjang punggungnya, menghubungkan kaki hingga ke leher, menciptakan posisi yang sangat tidak manusiawi. Meskipun wajah pria itu sebagian besar tertutup, detail fisik yang terlihat membuat para ibu merasa mengenali anak-anak mereka.

Militer Israel telah mengonfirmasi keaslian foto tersebut dan menyatakan bahwa insiden ini sedang dalam penyelidikan. Juru bicara militer menyebutkan bahwa pihak yang terlibat akan diproses sesuai temuan investigasi, serta menyatakan bahwa perlakuan yang digambarkan dalam foto tersebut tidak sejalan dengan nilai-nilai militer mereka. Namun, hingga kini, identitas dan lokasi penahanan pria tersebut masih dirahasiakan.

Rana Abu Nassar, ibu dari Osama Abu Nassar, mengaku sangat yakin bahwa pria tersebut adalah putranya. Ia mengenali detail tubuh, termasuk pembengkakan pada kaki yang persis seperti yang dimiliki Osama. Osama sendiri ditangkap pada Maret lalu di dekat area yang disebut 'Garis Kuning'. Penangkapannya sebelumnya memicu perhatian internasional karena ia ditangkap bersama putranya yang berusia satu tahun, yang diklaim keluarga menderita luka bakar rokok, sebuah tuduhan yang dibantah keras oleh militer Israel.

Di sisi lain, Joudeh Al-Ghoul juga merasa sangat yakin bahwa pria itu adalah putranya, Ameen Al-Ghoul, yang hilang sejak November 2023 saat mencoba melakukan perjalanan dari Gaza selatan ke utara. Bagi Joudeh, pengenalan itu datang dari insting seorang ibu yang melihat rambut dan dagu sosok tersebut. "Hati seorang ibu bisa mengenali anaknya," ujarnya dengan penuh isak tangis dari kamp pengungsian di Gaza City.

Ketidakpastian ini menambah penderitaan yang luar biasa bagi kedua keluarga. Di tengah situasi perang yang berkecamuk, ketiadaan informasi resmi mengenai nasib orang-orang yang ditahan menciptakan ruang bagi spekulasi dan trauma psikologis yang mendalam. Hingga saat ini, para keluarga masih menunggu jawaban pasti dari otoritas terkait mengenai keberadaan orang yang mereka cintai.

Mengapa Ini Penting

Berita ini menyoroti dampak krusial transparansi informasi dan etika dalam konflik bersenjata terhadap warga sipil. Bagi masyarakat Indonesia, isu ini menjadi pengingat pentingnya peran media sosial dalam mendokumentasikan pelanggaran HAM serta perlunya advokasi kemanusiaan yang berbasis pada fakta di tengah krisis informasi global.

Sumber Asli
Aljazeera
Tanggal
5 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit