Internasional

Harga Minyak Kembali ke Level Pra-Perang Akibat Peningkatan Pasokan Timur Tengah

Harga Minyak Kembali ke Level Pra-Perang Akibat Peningkatan Pasokan Timur Tengah

Ringkasan

  • Harga minyak mentah global anjlok ke level pra-perang seiring dengan pulihnya arus pasokan melalui Selat Hormuz dan pelonggaran sanksi terhadap Iran.

Harga minyak mentah dunia mencatatkan penurunan signifikan hingga kembali ke level harga sebelum konflik Iran dimulai. Pada perdagangan Kamis, harga minyak Brent untuk pengiriman Agustus turun sebesar 1,44 persen menjadi 72,68 dolar AS per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 1,08 persen ke posisi 69,58 dolar AS per barel. Angka ini merupakan titik terendah sejak 27 Februari lalu, menandakan pasar mulai merespons positif terhadap normalisasi pasokan global.

Penurunan harga ini didorong oleh ekspektasi pasar akan melimpahnya pasokan dari Timur Tengah yang kini mulai mengalir kembali. Sekretaris Energi AS, Chris Wright, menyatakan bahwa arus lalu lintas tanker melalui Selat Hormuz telah mendekati volume normal. Setidaknya 20 juta barel minyak telah berhasil melintasi jalur krusial tersebut dalam 24 jam terakhir, memberikan sentimen lega bagi para pelaku pasar energi global.

Meski arus lalu lintas telah pulih, pihak otoritas menegaskan bahwa pemulihan total akan memakan waktu beberapa pekan. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan untuk membersihkan Selat Hormuz dari sisa-sisa ranjau laut yang dipasang selama konflik berlangsung. Selain itu, Iran diprediksi akan meningkatkan volume penjualan minyak mentah setelah mendapatkan pelonggaran sementara dari sanksi Amerika Serikat, yang secara langsung menekan harga komoditas fisik di pasar global.

Kesepakatan awal untuk mengakhiri perang antara AS-Israel dengan Iran yang dimulai pada akhir Februari lalu, telah membuka jalan bagi dimulainya kembali perdagangan maritim. Meskipun kesepakatan tersebut masih dalam fase negosiasi 60 hari untuk membahas isu-isu sensitif seperti program nuklir Iran, optimisme pasar tetap tinggi. Pemerintah AS meyakini bahwa aliran minyak akan tetap terjaga terlepas dari dinamika politik yang terjadi ke depannya.

Di sisi lain, ketegangan diplomatik masih membayangi jalur perdagangan ini. Iran menyatakan rencana untuk menerapkan biaya layanan maritim di Selat Hormuz, sebuah langkah yang ditentang keras oleh Amerika Serikat yang menganggap jalur tersebut sebagai perairan internasional bebas biaya. Oman sendiri telah mengambil inisiatif dengan membuka rute sementara untuk memfasilitasi pergerakan tanker, yang dikoordinasikan bersama Organisasi Maritim Internasional (IMO).

Situasi tetap dinamis karena Garda Revolusi Iran mengeluarkan peringatan keras terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz tanpa otorisasi resmi. Mereka menyatakan akan menindak tegas kapal yang tidak mematuhi regulasi baru tersebut. Ketegangan ini menjadi catatan penting bagi stabilitas pasokan energi jangka panjang, meskipun untuk saat ini, pasar minyak dunia lebih fokus pada peningkatan volume pasokan yang menekan inflasi harga energi.

Mengapa Ini Penting

Penurunan harga minyak dunia ini memberikan angin segar bagi ekonomi Indonesia dalam menekan biaya subsidi energi dan inflasi domestik. Stabilitas di Timur Tengah sangat krusial bagi rantai pasok energi Indonesia, mengingat ketergantungan impor minyak mentah yang masih tinggi untuk memenuhi kebutuhan industri nasional.

Sumber Asli
Aljazeera
Tanggal
25 Juni 2026
Waktu Baca
3 menit