Teheran menyatakan bahwa kesepakatan untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah merupakan sebuah deklarasi atas kekalahan Amerika Serikat. Pernyataan ini muncul di tengah upaya diplomatik Amerika Serikat yang terus memperkuat komitmen keamanan bagi sekutu-sekutunya di kawasan Teluk.
Perang yang dipicu oleh serangan udara AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu kini telah berakhir melalui sebuah perjanjian. Pihak Iran memandang hasil kesepakatan ini sebagai sebuah kemenangan strategis bagi Republik Islam tersebut, setelah sebelumnya konflik ini menyebabkan ketidakstabilan besar di kawasan.
Selama masa konflik, Teheran merespons dengan memblokir jalur air vital untuk pengiriman energi dunia serta meluncurkan ribuan drone dan rudal ke arah Israel dan negara-negara tetangganya di Teluk. Ketegangan ini sempat melumpuhkan aktivitas ekonomi global sebelum akhirnya kedua belah pihak menandatangani nota kesepahaman di Islamabad.
Negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa nota kesepahaman tersebut bukanlah hasil dari tekanan atau paksaan, melainkan buah dari keteguhan bangsa Iran. Ghalibaf menyatakan bahwa keamanan di Timur Tengah seharusnya menjadi tanggung jawab mutlak bagi negara-negara di kawasan itu sendiri tanpa campur tangan asing.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, memulai rangkaian kunjungan ke negara-negara Teluk untuk memberikan jaminan keamanan kepada sekutu. Dalam pertemuannya dengan pemimpin Uni Emirat Arab, Sheikh Mohamed bin Zayed, Rubio membahas tantangan stabilitas regional pasca-perang, termasuk isu transit di Selat Hormuz.
Presiden AS, Donald Trump, melalui platform Truth Social, mengklaim bahwa Iran telah memberikan jaminan tidak akan mengenakan biaya tambahan atau tarif bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Meski demikian, kepastian durasi komitmen tersebut masih menjadi sorotan di tengah proses negosiasi permanen yang rencananya akan berlangsung selama 60 hari ke depan.