Ribuan warga Kenya saat ini tengah bersiap melakukan demonstrasi besar-besaran untuk memperingati dua tahun gerakan protes Gen Z. Momen ini sekaligus menjadi ajang berkabung bagi lebih dari 120 nyawa yang melayang selama rangkaian aksi protes yang sempat mengguncang tatanan politik negara tersebut sejak dua tahun silam.
Aksi ini bermula pada tahun 2024 sebagai respons terhadap rancangan undang-undang perpajakan yang kontroversial. Kelompok pemuda yang menamakan diri 'Gen Z' memobilisasi massa melalui media sosial untuk menentang kenaikan biaya hidup, tingkat pengangguran yang tinggi, serta dugaan korupsi di lingkungan pemerintah. Target utama mereka saat itu adalah menuntut pengunduran diri Presiden William Ruto.
Meski tuntutan utama untuk melengserkan presiden tidak tercapai, gerakan ini berhasil memaksa pemerintah membatalkan RUU perpajakan tersebut. Namun, para pengamat menilai akar masalah seperti ketimpangan ekonomi dan kebijakan publik yang tidak pro-rakyat hingga kini masih belum terselesaikan, sehingga menyulut kembali kemarahan generasi muda di berbagai kota besar, termasuk Nairobi.
Peringatan tahun lalu sempat diwarnai tragedi berdarah ketika aparat keamanan melakukan tindakan represif terhadap massa, yang menyebabkan lebih dari 60 orang tewas. Menjelang peringatan tahun ini, pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Ruto telah mengeluarkan peringatan keras dan mengerahkan pasukan keamanan dalam jumlah besar di titik-titik krusial untuk mencegah meluasnya aksi.
Karakteristik gerakan Gen Z di Kenya sangat unik karena sifatnya yang terdesentralisasi dan sangat bergantung pada konektivitas digital. Tanpa komando dari partai politik tradisional, mereka memanfaatkan media sosial untuk mengorganisir massa. Fenomena ini mencerminkan tren global di mana generasi muda di berbagai negara, termasuk di Asia dan Asia Tenggara, bangkit menuntut transparansi demokrasi dan keadilan sosial.
Situasi di Kenya saat ini menjadi sorotan dunia karena mencerminkan ketegangan antara aspirasi perubahan oleh generasi muda dengan otoritas pemerintah yang cenderung defensif. Pengerahan polisi secara masif menjelang hari peringatan menunjukkan bahwa stabilitas politik di Kenya masih sangat rapuh dan bergantung pada bagaimana pemerintah merespons tuntutan ekonomi yang mendasar dari rakyatnya.