Dua kapal tanker dilaporkan mengalami insiden di Selat Hormuz pada Selasa (7/7), sebuah peristiwa yang memicu kekhawatiran baru di tengah memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah. Salah satu kapal yang terdampak adalah tanker gas alam cair (LNG) milik Qatar, Al Rekayyat, yang melaporkan serangan drone pada bagian lambung kapal hingga menyebabkan kebakaran di ruang mesin. Selain itu, sumber keamanan maritim mengonfirmasi bahwa sebuah tanker minyak mentah milik Arab Saudi juga mengalami kerusakan akibat insiden serupa.
Dalam rekaman komunikasi radio yang beredar, kapten Al Rekayyat menyatakan bahwa kapal tersebut kehilangan kemampuan navigasi dan mesin setelah diserang. Meskipun seluruh kru dilaporkan selamat, kapal tersebut kini dalam posisi lumpuh dan menunggu bantuan evakuasi. Hingga saat ini, belum ada pihak yang menyatakan bertanggung jawab atas serangan tersebut, meskipun laporan dari media Axios menyebutkan adanya keterlibatan Iran dalam penembakan terhadap kapal-kapal tersebut.
Insiden ini terjadi tepat saat jutaan masyarakat Iran tengah melangsungkan prosesi pemakaman selama sepekan untuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Khamenei tewas bersama anggota keluarganya pada hari pertama pecahnya perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel. Suasana duka yang menyelimuti Iran berubah menjadi seruan balas dendam yang masif, dengan ratusan ribu orang turun ke jalan di kota Qom sambil membawa spanduk yang menuntut pembalasan terhadap Presiden Donald Trump.
Pemerintah Iran menegaskan bahwa tidak akan ada kelanjutan pembicaraan damai selama Amerika Serikat terus melontarkan ancaman perang. Kondisi ini memperkeruh situasi di Selat Hormuz, jalur perdagangan energi paling vital di dunia, di mana Iran berusaha memperkuat kendali untuk memungut biaya lintas kapal. Upaya ini dipandang sebagai pergeseran kekuatan besar di kawasan yang selama ini berada di bawah jaminan keamanan Amerika Serikat.
Prosesi pemakaman Khamenei, yang dimulai sejak Senin di Teheran, akan dilanjutkan dengan membawa jenazah ke sejumlah kota suci di Irak sebelum akhirnya dimakamkan di sebuah situs bersejarah di Iran. Di tengah duka yang mendalam, retorika keras dari para pendukung garis keras terus terdengar di jalanan, menciptakan ketidakpastian mendalam terkait masa depan stabilitas keamanan di wilayah Teluk.
Upaya gencatan senjata sementara yang disepakati bulan lalu guna memberikan ruang bagi negosiasi damai kini tampak berada di ujung tanduk. Perundingan tidak langsung di Qatar pekan lalu berakhir tanpa kemajuan berarti. Dengan ancaman Trump yang meminta kesepakatan permanen atau menghadapi konsekuensi militer lebih lanjut, dunia kini menanti langkah besar berikutnya yang akan menentukan nasib stabilitas energi dan perdamaian global.