Piala Dunia 2026 telah menyajikan berbagai drama di lapangan hijau, namun penggunaan Video Assistant Referee (VAR) menjadi sorotan utama sepanjang fase grup. Teknologi yang diharapkan mampu menghadirkan keadilan ini justru memicu perdebatan sengit setelah serangkaian keputusan krusial yang berdampak langsung pada kelolosan tim ke babak gugur.
Salah satu insiden paling menyakitkan terjadi saat Iran bermain imbang 1-1 melawan Mesir. Pada menit ketiga masa tambahan waktu, Shoja Khalilzadeh mencetak gol yang sempat memicu perayaan liar di Seattle Stadium. Namun, kegembiraan tersebut sirna ketika VAR melakukan peninjauan dan memutuskan bahwa Khalilzadeh berada dalam posisi offside tipis, hanya terpaut hitungan milimeter. Keputusan ini secara dramatis memupus harapan Iran untuk mencatatkan sejarah lolos ke fase gugur.
Nasib serupa dialami oleh Kolombia dalam pertandingan sengit melawan Portugal di Miami. Davinson Sanchez sempat mengira telah mengamankan kemenangan bagi timnya melalui sundulan di menit-menit akhir. Sayangnya, wasit garis mengangkat bendera offside, dan tayangan ulang VAR mengonfirmasi bahwa posisi kaki Sanchez memang berada di depan pemain lawan, yang memicu kekecewaan besar bagi pendukung Kolombia.
Di Boston, laga antara Ghana dan Inggris juga diwarnai kontroversi terkait penalti. Pada menit ke-79, bek Inggris Ezri Konsa melakukan tekel kepada Prince Kwabena Adu di dalam kotak penalti. Meskipun terlihat jelas tidak mengenai bola, wasit tetap bergeming dan VAR tidak melakukan intervensi. Pelatih Ghana, Carlo Queiroz, secara sarkastik menyebut bahwa VAR seolah sedang tidak aktif saat momen krusial tersebut berlangsung.
Selain insiden tersebut, Brasil juga merasakan dampak ketatnya keputusan VAR saat gol Vinicius Jr dianulir dalam pertandingan melawan Skotlandia. Keputusan-keputusan ini menunjukkan betapa krusialnya peran teknologi dalam sepak bola modern, di mana margin kesalahan yang sangat kecil dapat mengubah hasil akhir pertandingan secara signifikan.
Secara keseluruhan, fase grup Piala Dunia 2026 ini menjadi pengingat bahwa meskipun teknologi VAR dirancang untuk meningkatkan akurasi, interpretasi terhadap aturan tetap menjadi faktor penentu. Kritik yang muncul dari berbagai pihak menuntut transparansi lebih lanjut dari FIFA mengenai protokol penggunaan VAR agar integritas kompetisi tetap terjaga hingga babak final.