Afrika Selatan saat ini tengah menghadapi eskalasi sentimen anti-migran yang cukup berbahaya. Dalam beberapa bulan terakhir, kelompok vigilante dilaporkan melakukan aksi demonstrasi di berbagai komunitas, menargetkan tempat usaha milik pendatang, serta menyalahkan kelompok migran atas tingginya angka kriminalitas, pengangguran, hingga ambruknya layanan publik. Kemarahan yang dirasakan oleh sebagian masyarakat Afrika Selatan memang nyata dan beralasan, mengingat jutaan orang di sana menghadapi kesulitan hidup setiap harinya.
Tingkat pengangguran di Afrika Selatan tercatat sebagai salah satu yang tertinggi di dunia. Kemiskinan dan kelaparan terus membayangi masyarakat kelas pekerja, sementara generasi muda kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak. Layanan publik berada di bawah tekanan yang luar biasa, dan banyak komunitas merasa ditinggalkan oleh para pemimpin politik yang gagal menepati janji-janji kampanye mereka untuk kehidupan yang lebih sejahtera.
Namun, mengarahkan kemarahan kepada para migran merupakan langkah yang salah sasaran. Migran bukanlah pihak yang menciptakan krisis pengangguran di Afrika Selatan. Mereka tidak bertanggung jawab atas kegagalan pemerintah daerah, deindustrialisasi ekonomi, pemotongan anggaran publik, privatisasi layanan, hingga suburnya praktik korupsi di tingkat birokrasi. Akar permasalahan dari krisis yang dialami Afrika Selatan jauh lebih dalam dan bersifat struktural.
Ketimpangan ekstrem yang terjadi saat ini adalah warisan dari berabad-abad penindasan kolonial, kapitalisme rasial, dan eksploitasi era apartheid. Meskipun transisi demokrasi tahun 1994 berhasil mengakhiri apartheid secara politik, hal tersebut tidak sepenuhnya mengubah struktur ekonomi yang masih memusatkan kekayaan, lahan, dan kekuatan ekonomi di tangan segelintir kelompok minoritas. Kegagalan transformasi ini terus menghantui kehidupan jutaan warga Afrika Selatan.
Sejak krisis keuangan global tahun 2008, pertumbuhan ekonomi di negara tersebut cenderung stagnan. Sektor manufaktur mengalami penurunan, sementara pekerjaan yang stabil semakin sulit didapat dan digantikan oleh pekerjaan informal yang tidak pasti. Situasi ekonomi yang sulit ini menciptakan lahan subur bagi narasi kambing hitam. Sejarah menunjukkan bahwa di tengah krisis ekonomi, masyarakat cenderung menyalahkan kelompok rentan daripada mengonfrontasi sumber masalah yang sebenarnya.
Pola pengalihan isu ini tidak hanya terjadi di Afrika Selatan, tetapi juga menjadi fenomena global. Di Eropa dan Amerika Serikat, gerakan politik sayap kanan sering kali meraih dukungan dengan menyalahkan migran atas ketidakamanan ekonomi. Strategi ini mendorong masyarakat untuk mengarahkan kemarahannya secara horizontal kepada sesama kelas pekerja, alih-alih menuntut pertanggungjawaban dari mereka yang memegang kekuasaan ekonomi dan politik. Ketika pekerja terpecah oleh isu kebangsaan atau etnis, pihak yang diuntungkan justru mereka yang memetik keuntungan dari eksploitasi tenaga kerja murah.