Menjadi seorang ayah untuk pertama kalinya pada tahun 2023 memberikan pelajaran berharga bagi Dr. Xander Ong. Awalnya, ia terjebak dalam pola pikir bahwa tugas utamanya sebagai suami adalah membantu istri dalam mengurus bayi. Namun, seiring berjalannya waktu, ia menyadari bahwa mengasuh anak bukanlah sekadar daftar tugas yang harus diselesaikan, melainkan sebuah proses panjang untuk membangun hubungan emosional yang mendalam dengan sang buah hati.
Pengalaman Dr. Ong dimulai dengan tantangan nyata saat putranya lahir tiga minggu lebih awal dari jadwal. Di tengah kesibukan merenovasi rumah dan kurangnya waktu tidur, ia merasa kewalahan. Ia sempat terjebak pada pendekatan mekanis, di mana ia hanya fokus memastikan kebutuhan fisik anak terpenuhi, seperti memberi makan atau menenangkan bayi agar tidak menangis, sementara urusan pengasuhan emosional sering kali ia serahkan sepenuhnya kepada sang istri.
Ia mengakui bahwa pola asuh yang ia terima dari generasinya dulu, di mana sosok ayah dipandang sebagai penyedia nafkah dan sosok yang kaku, sangat memengaruhi cara pandangnya. Namun, realitas keluarga modern saat ini telah berubah. Dengan pola keluarga berpenghasilan ganda, pembagian peran tradisional tidak lagi relevan dan sering kali justru menghambat potensi keterlibatan aktif seorang ayah dalam tumbuh kembang anak.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa anak-anak berkembang lebih optimal ketika mereka memiliki ikatan yang kuat dengan ayahnya. Ikatan ini memiliki karakteristik unik yang berbeda dengan ikatan ibu dan anak. Sensitivitas paternal, yaitu kemampuan ayah untuk memahami, menginterpretasikan, dan merespons kebutuhan anak, terbukti menjadi faktor kunci dalam membentuk karakter anak yang lebih tangguh dan percaya diri.
Dr. Ong kini menekankan pentingnya bagi para ayah untuk tidak lagi memposisikan diri sebagai 'asisten' bagi istri, melainkan sebagai mitra pengasuhan yang setara. Membangun hubungan dengan anak memerlukan kehadiran fisik dan mental yang konsisten. Kehadiran ini tidak bisa diwakilkan oleh siapa pun, termasuk oleh pengasuh atau anggota keluarga lainnya, karena momen-momen kecil dalam interaksi sehari-hari adalah fondasi dari hubungan jangka panjang.
Pada akhirnya, perjalanan menjadi orang tua bagi Dr. Ong adalah tentang transisi identitas dari pria yang hanya 'membantu' menjadi sosok ayah yang terlibat penuh. Ia mengajak para ayah lainnya untuk mengubah perspektif mereka, berhenti melihat pengasuhan sebagai beban kerja, dan mulai melihatnya sebagai peluang untuk menumbuhkan ikatan batin yang tak ternilai harganya dengan anak mereka.