Kota Bogor yang selama ini melegenda dengan julukan Kota Hujan dan iklimnya yang sejuk, kini mulai merasakan pergeseran suhu yang signifikan. Fenomena udara yang semakin terik, dengan suhu harian mencapai 32-34 derajat Celsius, menjadi keluhan umum masyarakat setempat. Kondisi ini memicu pertanyaan mendasar terkait apa yang sebenarnya terjadi pada ekosistem iklim di wilayah tersebut.
Givo Alsepan, pakar sekaligus dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, mengungkapkan bahwa perubahan suhu ini tidak dipicu oleh satu faktor tunggal. Fenomena ini merupakan hasil akumulasi dari dinamika iklim global, pemanasan global yang terus berlanjut, hingga perubahan drastis pada tata guna lahan akibat pesatnya laju urbanisasi di kawasan penyangga ibu kota tersebut.
Secara klimatologis, suhu rata-rata Bogor sebenarnya berada di kisaran 25,5 hingga 27 derajat Celsius. Namun, pengaruh fenomena El Nino-Southern Oscillation (ENSO) telah mengganggu keseimbangan tersebut. Saat ini, fase El Nino yang aktif di Samudra Pasifik tropis menyebabkan pergeseran pusat pembentukan awan menjauh dari wilayah Indonesia, yang berdampak pada berkurangnya curah hujan dan meningkatnya intensitas radiasi matahari yang mencapai permukaan Bumi.
Selain faktor iklim jangka pendek seperti El Nino, Givo menekankan adanya tren kenaikan suhu tahunan yang konsisten sejak tahun 1990. Hal ini selaras dengan data pemanasan global yang menuntut perhatian serius. Tanpa adanya upaya mitigasi iklim yang konkret, tren kenaikan suhu udara di Bogor diprediksi akan terus berlanjut di masa depan, yang berpotensi mengubah pola hidup masyarakat secara permanen.
Faktor lain yang memperburuk kondisi ini adalah fenomena 'urban heat island' atau pulau panas perkotaan. Ekspansi pembangunan yang masif di Bogor telah mengurangi ruang terbuka hijau secara signifikan. Permukaan beton dan aspal yang luas cenderung menyerap dan memerangkap panas, yang kemudian meningkatkan suhu udara di kawasan perkotaan dibandingkan dengan area suburban atau pedesaan di sekitarnya.
Penelitian yang merujuk pada laju urbanisasi periode 1997-2007 menunjukkan bahwa transformasi bentang alam di Bogor berlangsung sangat cepat. Ketidakseimbangan antara pembangunan infrastruktur dan pelestarian lingkungan ini menjadi tantangan besar bagi pemerintah daerah dalam merancang kebijakan tata kota yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim agar kenyamanan lingkungan tetap terjaga.