Selama ini, laksa Katong sering dianggap sebagai representasi tunggal dari kuliner laksa khas Singapura. Namun, jauh sebelum popularitas Katong meroket sebagai ikon nasional, terdapat varian laksa lain yang telah lama menghiasi meja makan masyarakat di kawasan pesisir, yakni laksa Siglap. Hidangan ini menawarkan perspektif sejarah gastronomi Singapura yang lebih mendalam, merefleksikan akar budaya dari era kampung nelayan.
Menurut Khir Johari, penulis buku 'The Food Of Singapore Malays', laksa Siglap memiliki silsilah yang setara dengan laksa Johor atau laksa Riau. Berbeda dengan varian Katong yang berbasis santan, laksa Siglap menonjolkan kuah kaldu yang kaya dengan paduan daging ikan tenggiri dan kerisik. Hidangan ini disajikan dengan irisan mentimun, tauge, dan aneka rempah segar yang memberikan cita rasa autentik dan menyegarkan.
Dalam bukunya, Khir bahkan menyebut hidangan ini sebagai 'Laksa Singapura' yang sesungguhnya karena merupakan varian laksa pertama yang hadir di wilayah tersebut. Meskipun kini keberadaannya tidak seluas laksa Katong, kuliner ini masih dapat ditemukan di beberapa kedai tradisional di kawasan Geylang Serai dan Bedok, menjaga warisan rasa masa lalu tetap hidup di tengah modernitas Singapura.
Jurnalis Azimin Saini, yang tumbuh besar dengan cita rasa laksa Siglap buatan ibunya, menjelaskan bahwa perbedaan mendasar antara kedua jenis laksa ini terletak pada profil rasanya. Laksa Siglap memiliki karakter kuah ikan yang kuat dengan rempah yang lebih kompleks dan segar, berbeda dengan laksa Katong yang cenderung lebih ringan dan creamy. Baginya, kedua jenis laksa ini memiliki keunikan masing-masing yang memperkaya khazanah kuliner lokal.
Lebih lanjut, Khir menjelaskan bahwa istilah 'laksa' sebenarnya merujuk pada jenis mi beras dan sagu yang digunakan, bukan sekadar nama hidangannya saja. Hal ini menjelaskan mengapa penamaan laksa selalu diikuti oleh nama daerah, seperti laksa Penang, laksa Katong, atau laksa Siglap. Tradisi mi ini sendiri masuk ke wilayah Melayu melalui akulturasi budaya dari Tiongkok, Thailand, hingga Persia.
Etimologi kata 'laksa' diyakini berasal dari kata Persia 'lakhshidan' yang berarti meluncur. Kata ini merujuk pada bentuk mi yang lembut dan licin saat disantap dalam kuah. Pemahaman mengenai sejarah laksa Siglap tidak hanya memberikan wawasan tentang evolusi makanan, tetapi juga menegaskan bahwa identitas kuliner Singapura jauh lebih beragam dan memiliki keterkaitan erat dengan sejarah maritim di kawasan Asia Tenggara.