Internasional

Minat Apartemen BTO Singapura: Proyek Utama Lebih Diminati Dibanding Hunian Waktu Tunggu Singkat

Minat Apartemen BTO Singapura: Proyek Utama Lebih Diminati Dibanding Hunian Waktu Tunggu Singkat

Ringkasan

  • Proyek BTO dengan waktu tunggu singkat di Sembawang kurang diminati karena jarak ke MRT, sementara proyek di lokasi strategis tetap menjadi primadona.

Singapura mencatat dinamika menarik dalam peluncuran proyek Build-to-Order (BTO) terbaru pada Juni ini. Data menunjukkan bahwa proyek dengan waktu tunggu singkat di kawasan Sembawang Utara justru kurang diminati oleh keluarga pemohon pertama, sementara proyek di lokasi strategis atau 'Prime' seperti di Bukit Merah dan Bishan justru dibanjiri oleh pendaftar.

Hingga Rabu (24/6) pukul 17.00 waktu setempat, proyek Sembawang Portico dan Sembawang Brook mencatatkan tingkat pendaftaran di bawah satu untuk keluarga pemohon pertama di seluruh tipe unit. Hal ini memberikan kepastian bagi calon pembeli di wilayah tersebut untuk mendapatkan unit hunian tanpa persaingan ketat, mengingat statusnya sebagai proyek standar.

Sebaliknya, proyek di Berlayar Rise dan Lakeview Cascadia mendominasi perhatian pasar, dengan total pemohon mencapai sekitar 65 persen dari keseluruhan aplikasi dalam periode ini. Secara keseluruhan, terdapat 6.900 unit hunian HDB yang ditawarkan di tujuh wilayah berbeda, dengan lebih dari 2.500 unit di antaranya menawarkan waktu tunggu pembangunan yang relatif cepat, yakni di bawah tiga tahun.

Analisis dari Huttons Asia menunjukkan bahwa faktor lokasi menjadi penentu utama. Jarak yang jauh dari stasiun MRT, yakni lebih dari 2 kilometer untuk proyek di Sembawang, dianggap sebagai kerugian besar bagi calon pembeli. Hal ini kontras dengan kondisi pada peluncuran Februari lalu di Tampines, di mana proyek dengan waktu tunggu singkat justru mengalami kelebihan permintaan yang signifikan.

Secara total, terdapat 22.634 pendaftar yang bersaing memperebutkan 6.952 unit flat BTO, dengan tingkat rasio aplikasi mencapai 3,3. Meskipun pemerintah telah berupaya mempercepat waktu tunggu pembangunan sebagai solusi bagi kebutuhan hunian, preferensi masyarakat tetap condong pada aksesibilitas transportasi publik dan nilai strategis lokasi dibandingkan hanya kecepatan pembangunan.

Ke depannya, tren ini menjadi catatan penting bagi otoritas perumahan di Singapura dalam merancang kebijakan hunian. Keseimbangan antara penyediaan unit yang cepat dan pemilihan lokasi yang strategis tetap menjadi tantangan utama, terutama ketika harga antara proyek standar dan proyek di lokasi berkembang tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan bagi konsumen.

Mengapa Ini Penting

Fenomena ini menunjukkan bahwa aksesibilitas transportasi publik tetap menjadi faktor penentu utama nilai sebuah hunian, mengalahkan kecepatan pembangunan. Bagi industri properti di Indonesia, hal ini menekankan pentingnya integrasi Transit Oriented Development (TOD) dalam perencanaan perumahan rakyat agar proyek hunian tetap relevan dan diminati oleh masyarakat.

Sumber Asli
Channelnewsasia
Tanggal
24 Juni 2026
Waktu Baca
3 menit