NASA resmi meluncurkan misi penyelamatan bersejarah bagi Neil Gehrels Swift Observatory, sebuah teleskop luar angkasa yang telah beroperasi sejak tahun 2004. Pesawat robotik bernama LINK, yang dikembangkan oleh perusahaan asal Arizona, Katalyst Space Technologies, telah berhasil mengangkasa pada Jumat (3/7) dari wilayah Pasifik Selatan. Misi ini menjadi langkah krusial dalam menguji teknologi servis satelit di orbit yang sebelumnya dianggap mustahil.
Peluncuran LINK dilakukan menggunakan roket Pegasus XL milik Northrop Grumman yang dilepaskan dari pesawat Stargazer pada ketinggian 40.000 kaki di atas Atol Kwajalein, Kepulauan Marshall. Pesawat robotik ini dirancang untuk melakukan manuver pengejaran selama dua bulan sebelum akhirnya mendekati teleskop Swift. Setelah berhasil melakukan kontak, lengan robotik pada LINK akan mencengkeram teleskop tersebut dan mendorongnya ke orbit yang lebih tinggi guna memperpanjang masa operasionalnya selama bertahun-tahun.
Keputusan untuk melakukan misi penyelamatan ini didorong oleh kondisi orbit Swift yang semakin menurun. Teleskop senilai US$500 juta ini tidak memiliki sistem propulsi internal, sehingga aktivitas surya yang meningkat baru-baru ini mempercepat hambatan atmosfer yang menariknya jatuh ke Bumi. Tanpa intervensi robotik ini, Swift diperkirakan akan terbakar di atmosfer Bumi pada akhir tahun ini, yang akan mengakhiri kontribusi besarnya dalam riset lubang hitam dan galaksi jauh.
Dalam kontrak senilai US$30 juta, Katalyst berhasil merancang dan menguji LINK yang memiliki berat setengah ton hanya dalam waktu sembilan bulan. CEO Katalyst, Ghonhee Lee, menyebut LINK sebagai robot luar angkasa pertama di dunia yang dilengkapi dengan mekanisme cengkeram dan kemampuan manuver tingkat tinggi. Meskipun memiliki risiko kegagalan yang tinggi, tim pengembang menilai bahwa membiarkan Swift jatuh tanpa usaha penyelamatan adalah kerugian yang jauh lebih besar bagi dunia sains.
Keberhasilan misi ini diyakini akan membuka era baru dalam industri satelit global. Selama ini, industri antariksa cenderung memandang satelit sebagai aset sekali pakai yang akan ditinggalkan setelah masa pakainya habis. Namun, dengan teknologi servis robotik, satelit berharga dapat diperbaiki atau dipindahkan orbitnya dengan biaya yang jauh lebih murah dibandingkan meluncurkan satelit pengganti yang baru.
Teknologi robotik kini menjadi tulang punggung bagi eksplorasi antariksa masa depan. Dengan memperpanjang usia pakai aset bernilai tinggi di orbit, NASA dan mitra swastanya menunjukkan bahwa keberlanjutan di luar angkasa bukan lagi sekadar teori, melainkan praktik operasional yang nyata. Misi penyelamatan Swift ini menjadi batu loncatan penting untuk misi-misi pemeliharaan infrastruktur luar angkasa yang lebih kompleks di masa mendatang.