Politisi sayap kanan asal Inggris, Nigel Farage, kembali menjadi sorotan publik setelah munculnya tuduhan baru terkait kegagalannya dalam melaporkan penerimaan hadiah. Berdasarkan laporan terbaru, seorang terpidana kasus penipuan dikabarkan telah membiayai kebutuhan keamanan pribadi serta staf operasional Farage tepat sebelum ia resmi menjabat sebagai anggota parlemen.
Seorang anggota parlemen telah secara resmi mengajukan permohonan kepada komisaris standar parlemen untuk melakukan investigasi mendalam terhadap klaim tersebut. Hal ini menjadi pukulan telak bagi Farage, mengingat partai yang dipimpinnya, Reform UK, saat ini tengah menduduki posisi teratas dalam berbagai jajak pendapat nasional di Inggris.
Sebelum kasus ini mencuat, Farage sebenarnya sudah berada dalam pengawasan ketat oleh badan pengawas etika parlemen. Investigasi sebelumnya difokuskan pada ketidaktransparanan Farage terkait sumbangan dana sebesar 5 juta poundsterling atau setara dengan 6,6 juta dolar AS, yang berasal dari seorang miliarder mata uang kripto yang berdomisili di Thailand.
Laporan dari surat kabar The Sunday Times mengungkap bahwa George Cottrell, seorang pengusaha kripto berusia 32 tahun yang berasal dari keluarga aristokrat, menyewakan sebuah rumah mewah di dekat Istana Buckingham. Properti tersebut diketahui sering digunakan oleh Farage untuk menginap dalam berbagai kesempatan.
Lebih lanjut, laporan tersebut menyatakan bahwa Cottrell juga menanggung biaya keamanan pribadi Farage serta membayar staf yang mengelola media sosialnya. Aktivitas pendanaan ini dilakukan sesaat sebelum Farage mengumumkan keputusannya untuk kembali terjun ke kancah politik garis depan pada awal tahun 2024 lalu.
Perlu diketahui bahwa berdasarkan aturan parlemen Inggris yang baru, setiap anggota parlemen wajib mendaftarkan semua bentuk hadiah, termasuk pembayaran dalam bentuk barang atau jasa yang diterima dalam kurun waktu 12 bulan sebelum pemilihan umum. Pengecualian hanya berlaku bagi hadiah yang tidak dapat dikaitkan secara wajar dengan aktivitas politik, sebuah batasan yang kini sedang diuji dalam kasus Farage.