Direktur Eksekutif Center of Economics and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menekankan pentingnya diversifikasi komoditas ekspor guna memperbaiki kinerja neraca perdagangan Indonesia. Langkah ini menjadi krusial setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit neraca perdagangan sebesar 1,61 miliar dolar AS pada Mei 2026, yang sekaligus mengakhiri tren surplus selama 72 bulan berturut-turut.
Menurut Bhima, olahan nikel dan sektor perikanan merupakan dua komoditas strategis yang memiliki potensi besar sebagai alternatif ekspor. Fokus utama pada komoditas nikel harus diarahkan pada peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi yang berstandar internasional, bukan sekadar mengandalkan ekspansi pertambangan secara terus-menerus.
Dalam konteks pasar global, Bhima mendorong agar produk olahan nikel Indonesia memenuhi kriteria ketat terkait keberlanjutan lingkungan dan ketertelusuran (traceability). Standarisasi seperti Cross Border Adjustment Mechanism (CBAM) dan persyaratan dari The London Metal Exchange menjadi kunci agar produk Indonesia tidak hanya bergantung pada pasar China, tetapi juga mampu menembus pasar Eropa dan Amerika Serikat.
Optimasi diplomasi dagang melalui perjanjian seperti Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) dinilai sebagai langkah strategis untuk memperluas jangkauan pasar. Penguatan hilirisasi di sektor tengah industri nikel diharapkan dapat meningkatkan harga jual barang di pasar internasional meskipun dengan kuota produksi yang ada saat ini.
Di sisi lain, sektor perikanan dipandang memiliki potensi yang belum tergarap secara maksimal. Meskipun mencatatkan pertumbuhan positif, kontribusi sektor ini terhadap total ekspor dinilai masih relatif rendah. Produk olahan seperti rumput laut dan tuna memiliki peluang besar untuk menembus pasar ekspor di wilayah Pakistan, India, Asia Tengah, hingga Eropa.
Untuk merealisasikan potensi tersebut, pemerintah dan pelaku industri perlu berinvestasi lebih dalam pada infrastruktur pendukung, seperti cold storage dan industri hilirisasi perikanan di dalam negeri. Dengan mengolah komoditas perikanan sebelum diekspor, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah serta meminimalisir kerentanan ekonomi akibat fluktuasi harga global pada komoditas tradisional seperti batu bara dan sawit.