Dosen Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Tony K. Hariadi, memberikan pandangan strategis terkait rencana Muhammadiyah dalam membangun 2.000 titik Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Muhammadiyah (SKPL-MU) di seluruh Indonesia. Langkah ini dinilai sebagai terobosan krusial untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik di tanah air, terutama dalam mengatasi hambatan utama berupa minimnya infrastruktur pengisian daya.
Namun, Tony menekankan bahwa penyediaan stasiun pengisian hanyalah satu bagian dari ekosistem yang lebih luas. Menurutnya, percepatan adopsi kendaraan listrik tidak bisa hanya mengandalkan ketersediaan alat pengisi daya semata. Tantangan nyata yang dihadapi saat ini mencakup kesiapan industri baterai, ketersediaan jaringan bengkel yang kompeten, hingga layanan purnajual yang menjamin keberlangsungan operasional kendaraan.
Dalam analisisnya, calon konsumen saat ini masih memiliki keraguan mendalam mengenai usia pakai baterai serta biaya penggantian yang cukup tinggi di masa depan. Selain itu, perbandingan durasi pengisian daya masih menjadi faktor penghambat. Meskipun teknologi fast charging terus berkembang, waktu 15 hingga 20 menit yang dibutuhkan masih dianggap terlalu lama dibandingkan dengan pengisian bahan bakar minyak konvensional yang hanya memakan waktu sekitar lima menit.
Terkait kapasitas pasokan listrik nasional, Tony memastikan bahwa sistem kelistrikan Indonesia saat ini masih mampu menopang penambahan ribuan stasiun pengisian karena kondisi surplus listrik. Meski demikian, ia memberikan catatan kritis mengenai keandalan distribusi energi. Ia menyarankan agar SKPL-MU tidak sepenuhnya bergantung pada jaringan PLN guna mengantisipasi gangguan pemadaman listrik.
Sebagai solusi, Tony mengusulkan integrasi sumber energi mandiri pada infrastruktur SKPL-MU, seperti penggunaan panel surya atau pembangkit berbasis bioetanol. Pendekatan ini tidak hanya akan meningkatkan keandalan stasiun saat terjadi gangguan pada jaringan utama, tetapi juga memperkuat aspek keberlanjutan dan keramahan lingkungan yang menjadi nilai jual utama kendaraan listrik.
Lebih lanjut, penempatan SKPL-MU di lokasi strategis seperti perguruan tinggi dan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah dipandang memiliki nilai tambah tersendiri bagi Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Kehadiran fasilitas ini diharapkan dapat menjadi sarana promosi efektif sekaligus memberikan kemudahan aksesibilitas bagi masyarakat luas, yang pada akhirnya akan memperkuat posisi Muhammadiyah dalam mendukung transisi energi hijau di Indonesia.