Otoritas Rusia melaporkan terjadinya serangan skala besar yang melibatkan pesawat nirawak (drone) milik Ukraina terhadap terminal minyak di kawasan Pelabuhan St. Petersburg pada Sabtu dini hari. Insiden ini menandai eskalasi signifikan dalam konflik yang terus berlangsung, mengingat jarak lokasi serangan yang cukup jauh dari perbatasan Ukraina.
Gubernur St. Petersburg, Aleksandr Beglov, mengonfirmasi bahwa kota tersebut menjadi target serangan udara intensif. Sistem pertahanan udara Rusia dilaporkan telah aktif beroperasi dengan menembak jatuh sedikitnya 72 drone, di mana salah satu serpihan drone dilaporkan jatuh di kawasan bersejarah Peterhof. Meski demikian, beberapa drone berhasil menembus pertahanan dan menghantam pangkalan minyak di Distrik Kirovsky.
Dalam pernyataan resminya, Gubernur Beglov memastikan bahwa situasi di lokasi kejadian telah berhasil ditangani oleh pihak berwenang. Ia juga menegaskan bahwa tidak ada korban jiwa yang dilaporkan akibat insiden tersebut, meskipun kebakaran sempat terjadi di area pangkalan minyak pasca serangan, sebagaimana dilaporkan oleh kanal-kanal informasi lokal.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, secara terbuka mengakui bahwa pihaknya bertanggung jawab atas serangan tersebut. Menurutnya, langkah ini merupakan bagian dari strategi untuk menargetkan infrastruktur yang menjadi sumber pendapatan utama bagi mesin perang Rusia. Ia menambahkan bahwa serangan juga menyasar Kronstadt, sebuah lokasi militer yang dianggap strategis oleh pihak Ukraina.
Zelenskyy menyoroti keberhasilan serangan ini dengan menekankan jarak tempuh drone yang mencapai lebih dari 850 kilometer dari perbatasan Ukraina. Hal ini menunjukkan peningkatan kemampuan teknologi militer Ukraina dalam menjangkau target-target krusial di kedalaman wilayah Rusia yang selama ini dianggap sebagai zona aman.
Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Rusia memberikan laporan komprehensif mengenai upaya pertahanan mereka di berbagai front. Pihak kementerian mengklaim telah mencegat dan menghancurkan total 389 drone Ukraina di berbagai wilayah, termasuk Krimea, serta wilayah perairan strategis di Laut Azov dan Laut Hitam dalam kurun waktu yang berdekatan dengan insiden di St. Petersburg.