Pelatih tim nasional Norwegia, Stale Solbakken, menyatakan akan melakukan rotasi pemain dalam pertandingan terakhir Grup I Piala Dunia melawan Prancis pada hari Jumat mendatang. Keputusan ini diambil mengingat tingginya tekanan fisik dan mental yang dihadapi para pemain sepanjang turnamen, terutama dengan babak gugur yang sudah menanti di depan mata.
Baik Norwegia maupun Prancis sebenarnya telah memastikan diri lolos ke babak 32 besar setelah berhasil menyapu bersih kemenangan dalam dua laga awal mereka. Prancis hanya membutuhkan hasil imbang untuk mengunci posisi puncak klasemen berkat keunggulan selisih gol. Di sisi lain, kubu Prancis tengah mengalami situasi emosional karena pelatih Didier Deschamps harus pulang ke negaranya untuk menghadiri pemakaman ibundanya.
Solbakken menekankan bahwa meskipun laga melawan Prancis memiliki gengsi tersendiri, fokus utama timnya tetap tertuju pada babak 32 besar. Menurutnya, kondisi kebugaran pemain menjadi prioritas utama. Ia khawatir jika pemain dipaksa tampil penuh, mereka akan kelelahan saat menghadapi babak tambahan atau adu penalti yang mungkin terjadi di fase gugur.
Lebih lanjut, Solbakken menggambarkan turnamen ini layaknya sebuah 'pressure cooker' atau panci bertekanan tinggi. Meskipun para pemain profesional terbiasa dengan jadwal pertandingan setiap tiga hari sekali, intensitas mental dan tekanan di panggung Piala Dunia memberikan beban yang jauh lebih besar dibandingkan kompetisi liga domestik.
Evaluasi ini muncul setelah beberapa pemain Norwegia mengalami kram saat meraih kemenangan 3-2 atas Senegal. Solbakken menilai kondisi tersebut dipicu oleh tingkat kelembapan yang tinggi di New York serta kebutuhan hidrasi yang belum terpenuhi secara maksimal. Oleh karena itu, ia berkomitmen untuk menerapkan strategi yang lebih cerdas dalam mengelola energi tim.
Menanggapi isu persaingan individu antara Erling Haaland dan Kylian Mbappe yang sama-sama telah mengemas empat gol, Solbakken menegaskan bahwa Haaland adalah pemain yang mementingkan kepentingan tim. Sang pelatih menyebut bahwa striker andalannya tersebut tidak terobsesi dengan gelar pencetak gol terbanyak, melainkan lebih fokus pada kontribusi kolektif demi kesuksesan Norwegia di turnamen ini.