Internasional

Desakan Internasional: Bebaskan Segera Dr. Hussam Abu Safia

Desakan Internasional: Bebaskan Segera Dr. Hussam Abu Safia

Ringkasan

  • Kondisi Dr.
  • Hussam Abu Safia dilaporkan kritis di dalam penjara Israel.
  • Simak laporan mengenai desakan pembebasan dokter Gaza tersebut.

Kondisi kesehatan Dr. Hussam Abu Safia dilaporkan dalam keadaan kritis dan berada dalam bahaya nyata. Pernyataan. Informasi ini disampaikan langsung oleh pengacaranya, Nasser Odeh, setelah melakukan kunjungan ke fasilitas interogasi bawah tanah di Penjara Nitzan, Israel. Situasi ini memicu kekhawatiran global bahwa Gaza berisiko kehilangan sosok tenaga medis berdedikasi tinggi, sementara Israel terus menghadapi sorotan tajam atas dugaan pelanggaran hukum internasional yang berkelanjutan.

Dr. Abu Safia, seorang dokter spesialis anak sekaligus direktur Rumah Sakit Kamal Adwan, pertama kali menjadi sorotan dunia pada 27 Desember 2024. Saat itu, rekaman video memperlihatkan dirinya berjalan melewati reruntuhan bangunan di Gaza utara menuju kendaraan lapis baja militer Israel. Ia tidak sedang menyerah sebagai kombatan, melainkan terpaksa meninggalkan fasilitas medis yang ia pimpin setelah 85 hari berada di bawah pengepungan ketat, di mana pasokan obat-obatan dan listrik telah diputus total.

Sebelum penahanannya, rumah sakit yang dipimpinnya mengalami serangan brutal yang menewaskan sedikitnya 30 orang dan melukai 20 lainnya pada 6 Desember 2024. Tragedi pribadi menimpanya ketika putranya, Ibrahim, tewas di luar lingkungan rumah sakit. Meski dalam duka mendalam, Dr. Abu Safia tetap memilih untuk kembali melayani pasien anak-anak yang menjadi korban kekerasan, sebuah tindakan yang mempertegas dedikasinya sebagai pelindung nyawa di tengah krisis kemanusiaan.

Pihak otoritas Israel mendakwa Dr. Abu Safia dengan tuduhan keterlibatan dalam kelompok Hamas berdasarkan Undang-Undang Kombatan Tidak Sah. Namun, hingga saat ini, tidak ada bukti konkret atau dakwaan kriminal formal yang diajukan ke pengadilan. Selain itu, tidak ada pengamat independen yang diizinkan untuk meninjau materi intelijen yang digunakan sebagai dasar penahanannya, memicu kecurigaan mengenai legitimasi proses hukum tersebut.

Dalam penampilan publiknya melalui tautan video pada sidang Mahkamah Agung Israel tanggal 10 Juni lalu, Dr. Abu Safia tampak sangat kurus dan dalam kondisi kesehatan yang memprihatinkan setelah lebih dari 500 hari ditahan. Kondisinya semakin memburuk saat pertemuan terakhir dengan pengacaranya di Penjara Nitzan, di mana ia dilaporkan mengalami penyiksaan fisik hingga sulit dikenali dan sering kehilangan kesadaran.

Kasus Dr. Abu Safia mencerminkan krisis yang lebih luas di mana ratusan tenaga medis Palestina menjadi sasaran penahanan oleh otoritas Israel. Tercatat setidaknya 14 dokter masih berada dalam tahanan, dengan laporan kematian di dalam penjara. Dunia internasional kini didesak untuk bertindak lebih tegas guna memastikan perlindungan bagi tenaga kesehatan yang menjalankan tugas kemanusiaan di zona konflik, sesuai dengan prinsip-prinsip kemanusiaan yang diakui secara universal.

Mengapa Ini Penting

Kasus ini menyoroti perlindungan tenaga medis di zona konflik yang merupakan prinsip fundamental hukum humaniter internasional. Bagi masyarakat Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat penting akan nilai-nilai kemanusiaan dan urgensi diplomasi global dalam menanggapi pelanggaran HAM di wilayah perang.

Sumber Asli
Aljazeera
Tanggal
5 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit