Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh secara resmi memperkuat jejaring kolaborasi global dengan Guangdong Ocean University (GDOU), China. Kemitraan strategis ini difokuskan pada pengembangan riset berbasis kecerdasan buatan (AI) serta penguatan ilmu kelautan yang menjadi keunggulan kedua institusi tersebut. Kerja sama ini diharapkan mampu mendorong inovasi akademik bertaraf internasional sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di kedua negara.
Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Bisnis USK, Dr. Ramzi Adriman, menekankan bahwa sinergi ini merupakan langkah konkret dalam membangun kemitraan akademik yang berorientasi pada riset dan inovasi. Menurutnya, USK dan GDOU memiliki kompetensi yang saling melengkapi, terutama dalam bidang perikanan, keberlanjutan lingkungan, dan pengembangan ekonomi biru yang saat ini menjadi prioritas global.
Integrasi teknologi kecerdasan buatan menjadi fokus utama dalam kolaborasi ini. Dr. Ramzi menjelaskan bahwa penerapan AI akan memberikan kontribusi signifikan bagi pengelolaan sumber daya kelautan yang lebih efisien, implementasi perikanan cerdas, hingga upaya mitigasi bencana yang lebih akurat. Hal ini menjadi langkah besar bagi USK dalam memperluas cakupan riset ke bidang sains komputer, sains data, dan teknik.
Di sisi lain, Wakil Presiden GDOU, Prof. Deng Fengguang, menyatakan bahwa USK dipandang sebagai mitra strategis di Asia Tenggara. Kerja sama ini mencakup spektrum yang luas, mulai dari ilmu pangan, sains hewan, hingga pemanfaatan AI dalam pertanian padi laut. Kemitraan ini ditargetkan untuk mendukung strategi pembangunan nasional melalui penelitian mendalam di kawasan Samudra Hindia, Selat Malaka, hingga Laut China Selatan.
Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak menyepakati sejumlah inisiatif krusial, termasuk pengembangan proyek perikanan laut atau marine ranching dan pembentukan Workshop LUBAN. Selain itu, akan didirikan Pusat Bahasa Mandarin di lingkungan kampus USK sebagai upaya untuk mempererat pertukaran budaya dan akademis antara Indonesia dan China.
Sebagai langkah nyata implementasi kerja sama, kedua universitas sepakat untuk menjalankan program pertukaran mahasiswa jangka pendek yang melibatkan 20 mahasiswa dari masing-masing kampus setiap tahunnya. Selain pertukaran pelajar, kedua pihak juga mendorong riset bersama, penyelenggaraan program pascasarjana, serta implementasi program gelar ganda yang akan memperkuat posisi universitas di kancah pendidikan tinggi dunia.