Sebanyak 28 warga Desa Tanjakan Mekar, Kabupaten Tangerang, Banten, dilaporkan masih bertahan di lokasi pengungsian sementara. Langkah ini diambil menyusul insiden kebakaran yang melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Mauk, yang hingga kini masih menyisakan dampak bagi lingkungan sekitar.
Para pengungsi yang terdiri dari kelompok rentan seperti ibu rumah tangga, lansia, dan anak-anak ini telah menempati fasilitas Kantor Desa Tanjakan Mekar, Kecamatan Rajeg, selama satu pekan penuh. Mereka terpaksa meninggalkan kediaman masing-masing sejak insiden kebakaran pecah pada Selasa (30/6) lalu guna menghindari risiko gangguan kesehatan akibat paparan asap.
Salah satu pengungsi bernama Qipi mengungkapkan bahwa keputusan untuk bertahan di pengungsian didasari oleh kekhawatiran terhadap kualitas udara di sekitar pemukiman. Meskipun bantuan logistik telah mencukupi, keberadaan asap yang masih mengepul dari area TPA membuat warga belum berani kembali ke rumah untuk sementara waktu.
Kepala Desa Tanjakan Mekar, Uti, menjelaskan bahwa mayoritas pengungsi merupakan kelompok yang sangat rentan terhadap dampak asap beracun dari kebakaran sampah. Sebelumnya, banyak warga sempat mengeluhkan gangguan infeksi saluran pernapasan (Ispa), namun saat ini kondisi kesehatan mereka dilaporkan telah membaik berkat pemantauan rutin dari tim medis Puskesmas Rajeg.
Pemerintah daerah bersama pihak terkait telah memastikan ketersediaan kebutuhan pokok bagi para pengungsi tetap aman. Dukungan logistik terus mengalir, baik dari Dinas Sosial, Kementerian Sosial, pihak PDAM, hingga bantuan dari pemerintah provinsi dan berbagai elemen relawan kemanusiaan yang mendirikan dapur umum.
Di sisi lain, upaya pemadaman api di TPA Jatiwaringin terus digencarkan oleh tim gabungan yang terdiri dari pemerintah daerah, BNPB, serta KLH. Operasi pemadaman dilakukan secara intensif melalui jalur darat oleh petugas pemadam kebakaran dan personel Manggala Agni, serta didukung oleh tiga unit helikopter water bombing milik BNPB dari jalur udara.