Krisis kemanusiaan di Sudan kian memburuk seiring dengan eskalasi konflik yang berkepanjangan. Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF), tercatat sedikitnya 330 anak tewas atau mengalami luka-luka akibat dampak perang selama periode enam bulan pertama tahun 2026. Angka yang mengkhawatirkan ini menjadi pengingat keras akan rapuhnya perlindungan terhadap kelompok rentan di tengah gejolak militer yang terus berlangsung.
Wilayah Darfur dan Kordofan dilaporkan sebagai lokasi dengan tingkat korban anak tertinggi di seluruh negeri. UNICEF menegaskan bahwa anak-anak di Sudan saat ini menanggung beban terberat dari perang yang semakin mematikan dan tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Situasi ini menciptakan ketidakpastian mendalam bagi masa depan generasi muda di negara tersebut yang terjebak dalam baku tembak antar pihak yang bertikai.
Secara khusus, kondisi di El Obeid, Negara Bagian Kordofan Utara, menjadi sorotan utama karena ancaman serangan drone yang semakin intensif. Sejak bulan Mei lalu, tercatat lebih dari 35 anak menjadi korban di wilayah tersebut, di mana 18 di antaranya dinyatakan meninggal dunia. Data UNICEF menunjukkan bahwa 60 persen dari total korban di wilayah itu disebabkan oleh serangan udara tanpa awak, yang mengancam keselamatan lebih dari 500.000 warga sipil yang masih bertahan di area tersebut.
Perwakilan UNICEF untuk Sudan, Sheldon Yett, menyatakan keprihatinannya yang mendalam terhadap hilangnya ruang aman bagi anak-anak di Sudan. Menurutnya, anak-anak seharusnya tidak pernah menjadi sasaran dalam konflik bersenjata apa pun. Ia mendesak seluruh pihak yang berkonflik untuk segera menghentikan serangan terhadap infrastruktur sipil dan menjamin perlindungan bagi warga yang tidak terlibat langsung dalam peperangan.
Selain ancaman fisik langsung, dampak sistemik dari konflik ini juga sangat menghancurkan sektor sosial. Sejak perang pecah pada April 2023 antara Angkatan Bersenjata Sudan dan paramiliter Pasukan Pendukung Cepat, hampir 5 juta anak terpaksa mengungsi dari rumah mereka. Kondisi ini diperparah dengan ancaman malnutrisi akut yang diprediksi akan dialami oleh 4,2 juta anak sepanjang tahun 2026, serta terhentinya akses pendidikan bagi sekitar 8 juta anak.
UNICEF terus menyerukan kepada komunitas internasional dan pihak-pihak yang bertikai untuk membuka akses kemanusiaan yang aman, cepat, dan tanpa hambatan. Bantuan logistik, medis, dan pangan sangat diperlukan untuk mencegah krisis kelaparan dan penyakit yang lebih luas. Tanpa adanya gencatan senjata yang berkelanjutan dan komitmen perlindungan warga sipil, masa depan jutaan anak di Sudan berada di ambang kehancuran total.