Rata-rata durasi pelatihan per karyawan di Hong Kong mencatatkan rekor tertinggi dalam 14 tahun terakhir. Lonjakan ini dipicu oleh dorongan perusahaan lokal dalam mempercepat adopsi teknologi serta kebutuhan mendesak untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja di tengah persaingan ekonomi global yang semakin digital.
Berdasarkan survei terbaru mengenai kebutuhan pengembangan tenaga kerja tahun 2025-2026 yang dirilis oleh Hong Kong Institute of Human Resource Management, rata-rata jam pelatihan tahunan per karyawan mencapai 19,4 jam sepanjang tahun 2025. Angka ini mencerminkan peningkatan sebesar 6,8 persen dibandingkan tahun 2024 yang tercatat sebesar 18,1 jam.
Tren positif ini menandai pertumbuhan selama dua tahun berturut-turut dan merupakan level tertinggi yang pernah dicatat sejak tahun 2011, di mana saat itu rata-rata durasi pelatihan sempat menyentuh angka 19,9 jam. Data tersebut dihimpun dari 127 perusahaan yang bergerak di 18 industri berbeda dengan total cakupan hampir 80.000 karyawan purnawaktu.
Peningkatan jam pelatihan ini mencerminkan pergeseran prioritas bisnis yang kini menempatkan pengembangan staf sebagai investasi strategis. Fokus utama perusahaan saat ini terbagi menjadi dua sektor krusial, yaitu pemahaman terhadap kecerdasan buatan (AI) dan penguatan keterampilan lunak (soft skills) untuk menyeimbangkan efisiensi mesin dengan kreativitas manusia.
Charles Ho Long-chau, salah satu ketua komite pembelajaran dan pengembangan di lembaga tersebut, menjelaskan bahwa lonjakan jam pelatihan didorong oleh dampak AI yang kini merambah ke seluruh level organisasi. Mulai dari jajaran manajemen senior dan menengah hingga staf junior, semua pihak dituntut untuk beradaptasi dengan perubahan pola kerja berbasis teknologi agar tetap kompetitif.
Menatap tahun 2026, pengembangan kepemimpinan masih menempati prioritas utama bagi para pemberi kerja dengan angka 50 persen. Namun, penguasaan AI generatif untuk pembelajaran mengalami lonjakan signifikan, naik dari posisi keenam pada tahun 2025 menjadi posisi kedua dengan tingkat kepentingan mencapai 49 persen di kalangan perusahaan yang disurvei.