Internasional

Afrika Selatan dan Ghana Rebut Slot Playoff Dunia, Nigeria Absen Pertama Sejak 1991

Ringkasan

  • Afrika Selatan mengalahkan Nigeria 2-1 dan Ghana membalikkan ketinggalan mengalahkan Pantai Gading 2-1 untuk merebut dua tiket Afrika ke Playoff Interkontinental Piala Dunia Wanita 2027.

Afrika Selatan dan Ghana resmi mengunci dua representasi Afrika di Playoff Interkontinisional FIFA untuk Piala Dunia Wanita 2027 usai masing-masing meraih kemenangan dramatis pada Kualifikasi WAFCON, Kamis (14/8) malam WIB. Banyana Banyana mengalahkan Nigeria 2-1, sedangkan Black Queens membalikkan kedudukan mengalahkan Pantai Gading 2-1. Kemenangan ini mengirim Nigeria ke keputusaan sejarah: Super Falcons gagal lolos ke Piala Dunia Wanita untuk pertama kalinya sejak turnamen bergulir pada 1991.

Pertandingan di Stadion Larbi Zaouli, Casablanca, menyajikan drama penuh hingga menit terakhir. Afrika Selatan butuh kesabaran hingga menit ke-56 ketika Ronnel Donnelly mengirim bola tembak ke Hildah Magaia, yang lalu mengumpan rata untuk Thembi Kgatlana menyelesaikan dengan tenang. Kapten Refiloe Jane memperlebar keunggulan lewat tembakan terpantul di menit ke-77, namun ia langsung dikartu merah di menit tambahan usai menghalangi tembakan ke gawang dengan tangan. Christy Ucheibe mengeksekusi penalti hasil pelanggaran itu, namun penyelamatan kaki kiri Kiper Kaylin Swart menolak header Michelle Alozie memastikan kemenangan 2-1.

Di sisi lain, Ghana harus mengejar ketinggalan sejak menit pertama. Princess Marfo dihukum penalti usai dinilai melanggar kapten Pantai Gading Bernadette Amani di kotak penalti. Ines Konan mengeksekusi dengan dingin usai penundaan tiga menit untuk pemeriksaan VAR. Ghana sempat mengira menyamakan skor di awal babak kedua lewat Stella Nyamekye, namun gol dibatalkan usai VAR menilai kiper Oceane Lamfir masih menguasai bola. Princess Marfo menebus kesalahannya dengan header penyama di jelang menit ke-60, sebelum Josephine Bonsu mencetak gol kemenangan lewat penalti di menit ke-72 usai tangan Aboa Yapo menyentuh tembakan Grace Asantewaa — keputusan yang juga melewati tinjauan VAR.

Kualifikasi ini mengadopsi format unik: empat tim yang gagal di perempat final WAFCON — Nigeria, Afrika Selatan, Pantai Gading, dan Ghana — bersaing untuk dua slot playoff interkontinental. Sementara itu, empat semifinalis WAFCON — Kamerun, Malawi, Maroko, dan Aljazair — sudah langsung lolos ke Piala Dunia 2027 di Brasil. Kamerun dan debutan Malawi akan bertemu di final WAFCON hari Minggu untuk menentukan juara benua.

Bagi Nigeria, eliminasi ini menutup era dominasi tiga dekade. Super Falcons adalah satu-satunya tim Afrika yang hadir di setiap edisi Piala Dunia Wanita sejak edisi perdana 1991 di Tiongkok. Kegagalan ini menandai pergantian kekuasaan di sepak bola wanita Afrika, di mana Afrika Selatan dan Ghana kini menempati posisi terdepan. Banyana Banyana sendiri baru merasakan kemenangan pertama atas Nigeria di kompetisi resmi WAFCON usai serangkaian kekalahan di edisi sebelumnya.

Ghana kembali berharap tampil di panggung dunia untuk keempat kalinya dan pertama sejak 2007. Black Queens pernah berpartisipasi pada 1999, 2003, dan 2007, namun kemudian tersisih di kualifikasi berturut-turut. Kemenangan atas Pantai Gading — yang hanya pernah muncul sekali di Piala Dunia 2015 — menjadi momentum penting bagi proyek pembangunan tim nasiona Ghana di bawah era pelatih baru.

Peran VAR menjadi narasi tersendiri di kedua laga. Teknologi ini digunakan empat kali: membatalkan gol Ghana, mengonfirmasi penalti untuk masing-masing tim, dan memvalidasi penalti pembuka untuk Pantai Gading. Meskipun menimbulkan kontroversi dan penundaan, keputusan VAR dinilai adil oleh kedua belah pihak. Hal ini menunjukkan standar pengwasitan di kompetisi CAF semakin mendekati level FIFA, meski infrastruktur di beberapa stadion Afrika tetap jadi tantangan.

Format playoff interkontinental 2026 akan melibatkan enam tim: dua dari Afrika, dua dari Asia, satu dari Oseania, dan satu dari Amerika Selatan. Mereka akan bersaing di venue terpusat pada November-Desember 2026. Dua tim teratas lolos ke fase kedua Februari 2027, di mana akan menghadapi perwakilan Eropa, Amerika Selatan, dan dua dari CONCACAF untuk merebut tiga tiket terakhir ke Piala Dunia 2027. Jalur ini jauh lebih berat dibanding format sebelumnya yang hanya mempertemukan tim perwakilan benua secara berpasangan.

Konteks ini relevan bagi sepak bola wanita Indonesia. Meskipun Garuda Nusantara belum pernah lolos ke Piala Dunia senior, perkembangan format kualifikasi global yang semakin terbuka — dengan slot Asia bertambah — menciptakan peluang jangka panjang. PSSI saat ini fokus pada penguatan liga domestik (Liga 1 Putri) dan pembinaan timnas U-17 serta U-20 sebagai fondasi. Pengalaman Afrika menunjukkan bahwa konsistensi di level benua (seperti Nigeria) tidak menjamin kehadiran global tanpa regenerasi dan adaptasi taktis berkelanjutan.

Dari sisi komersial, kehadiran Afrika Selatan dan Ghana di playoff berpotensi menarik sponsor regional dan penayang streaming yang menargetkan pasar Afrika dan diaspora. Nigeria, dengan basis penggemar terbesar di benua, menjadi kerugian besar untuk pemasang iklan. Bagi broadcaster Indonesia, playoff interkontinental ini bisa jadi konten menarik di luar jadwal Liga Champions Asia atau liga Eropa, mengingat jam tayang yang relatif ramah bagi penonton Asia Tenggara.

Langkah selanjutnya bagi Banyana Banyana dan Black Queens adalah persiapan fisik dan mental untuk turnamen bertekanan tinggi di akhir tahun. Pelatih Desiree Ellis (Afrika Selatan) dan Nora Hauptle (Ghana) harus mengelola kelelahan pemain yang banyak bermain di liga Eropa dan AS, sambil merancang strategi menghadapi lawan dari benua lain yang gaya mainnya kontras. Sementara Nigeria dan Pantai Gading harus memulai siklus regenerasi lebih dini — mengevaluasi staf pelatih, mempromosikan pemain muda dari U-20, dan memperbaiki struktur liga domestik — agar tidak ketinggalan dalam siklus empat tahun ke depan.

Mengapa Ini Penting

Eliminasi Nigeria memutus rekaman 34 tahun kehadiran beruntun di Piala Dunia Wanita, menandakan pergeseran kekuasaan sepak bola wanita Afrika ke Afrika Selatan dan Ghana. Format playoff interkontinental baru yang melibatkan enam tim dari empat benua menciptakan jalur kualifikasi lebih kompetitif namun juga lebih tidak pasti. Bagi Indonesia, ini menjadi pelajaran bahwa dominasi regional (seperti Nigeria di Afrika) tidak menjamin kehadiran global tanpa regenerasi sistemik. Slot Asia yang bertambah di edisi 2027 membuka peluang jangka panjang bagi Garuda Nusantara, selama PSSI mempertahankan investasi pada liga domestik dan timnas muda.

Sumber Asli
Al Jazeera
Tanggal
14 Agustus 2026
Waktu Baca
6 menit