Teknologi

Aktivis India Puasa Hingga Kritis, Desak Menteri Pendidikan Mundur atas Kebocoran Soal

Ringkasan

  • Aktivis Sonam Wangchuk memasuki hari ke-17 mogok makan di New Delhi menuntut mundur Menteri Pendidikan India terkait kebocoran soal ujian yang merugikan jutaan pelajar.

Sonam Wangchuk, 59 tahun, terbaring lemah di atas kasur putih di area Jantar Mantar, jantung ibu kota New Delhi. Sejak 28 Juni, insinyur yang menginspirasi karakter di film Bollywood "3 Idiots" itu menahan lapar sebagai bentuk solidaritas dengan gerakan Cockroach Janta Party (CJP). Aksi mogok makannya kini memasuki hari ke-17 dengan kondisi fisik yang terus memburuk.

Berat badan Wangchuk susut 8,5 kilogram per Selasa kemarin. Tim medis yang menanganinya menyatakan kesehatannya terus terdegradasi. Pria asal Ladakh tersebut bahkan mengaku terlalu lemah untuk berbicara panjang lebar ketika diwawancarai kru Reuters. Ia sebelumnya menegaskan aksi ini bisa berlangsung enam pekan penuh jika nyawanya tidak lebih dulu melayang.

Akar protes ini bermula dari skandal kebocoran soal ujian pada Mei lalu yang mengguncang sistem pendidikan India. Kebocoran tersebut memaksa pembatalan ujian masuk perguruan tinggi kedokteran yang seharusnya diikuti 2,3 juta calon mahasiswa. Ujian akhirnya digelar ulang pada bulan lalu, namun kepercayaan publik telah hancur dan menuntut pertanggungjawaban Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan.

CJP, partai politik yang digawangi generasi Z, lahir dari kekecewaan struktural ini. Didirikan oleh Abhijeet Dipke yang baru berusia 30 tahun pada Mei, akun Instagram mereka meroket mendapat 22 juta pengikut hanya dalam hitungan hari. Mereka menyebut diri sebagai representasi "kaum malas, pengangguran, dan mereka yang selalu benar", sebuah satire tajam terhadap birokrasi yang dinilai gagal melindungi masa depan pemuda.

Di tengah dominasi algoritma media sosial, kelahiran CJP adalah studi kasus menarik tentang bagaimana platform digital digunakan sebagai ruang publik alternatif. Di Indonesia, pengaruh kreator konten dan komunitas digital dalam isu sosial politik juga meningkat tajam, terlihat dari berbagai tagar yang viral terkait kebijakan pendidikan atau ketenagakerjaan. Namun, belum ada entitas lokal yang berhasil mengonsolidasi jutaan massa dalam hitungan hari hanya lewat estetika Gen Z yang sarcastik seperti gerakan "Cockroach" ini.

Keberhasilan CJP meraih audiens masif menunjukkan bahwa narasi protes yang dikemas dengan bahasa visual dan humor bisa menembus kejenuhan politik tradisional. Krisis kebocoran soal ini sendiri berakar pada infrastruktur digital dan keamanan data seleksi nasional. India, dengan populasi 1,42 miliar jiwa di mana lebih dari separuhnya adalah pemuda, menghadapi tekanan enorm pada sistem e-governance mereka.

Di Indonesia, isu integritas ujian berbasis komputer juga kerap diuji, meski mekanisme pengamanan siber terus diperketat oleh Kementerian Pendidikan. Tingginya angka pengangguran pemuda India—mencapai 10 persen secara nasional dan 13,6 persen di perkotaan—memperparah situasi amarah ini. Data pemerintah menyebut angka pengangguran usia 15 tahun ke atas berada di 3,1 persen pada 2025, namun kesenjangan peluang kerja bagi kaum muda sangat mencolok, membuat setiap kegagalan sistem seleksi dianggap sebagai perampasan masa depan.

Dipke, sang pendiri CJP, terus berupaya menjaga nyala protes sembari merawat Wangchuk. "Kami sudah berusaha meyakinkan Sonam untuk menghentikan mogok makan, tapi ia bersikeras lanjut," ujar Dipke di sela berinteraksi dengan pengunjung dan kreator YouTube yang meliput aksi tersebut. Ia bahkan menuduh pemerintah sengaja membiarkan para demonstran mati kelaparan demi meredam suara oposisi.

Seorang pemuda yang juga ikut mogok makan di lokasi protes dilaporkan pingsan pada Senin dan harus dilarikan ke rumah sakit. Menyikapi kondisi kritis ini, sejumlah pemimpin oposisi tingkat atas ikut menyerukan penghentian aksi. Akhilesh Yadav, mantan Kepala Menteri Uttar Pradesh, menulis di platform X bahwa nyawa Wangchuk sangat berharga bagi dunia karena mencerminkan komitmen pada kemanusiaan, lingkungan, dan demokrasi.

Wangchuk kini meminta kawan-kawannya untuk terus mempersiapkan long march menuju parlemen pada 20 Juli mendatang. Aksi di Jantar Mantar ini menjadi tantangan langka bagi rezim Perdana Menteri Narendra Modi yang telah berkuasa 12 tahun, menunjukkan adanya celah perlawanan sipil di era digital.

Jika pemerintah tetap bungkam terhadap tuntutan pengunduran diri menteri, krisis kepercayaan terhadap sistem seleksi pendidikan India diprediksi akan memicu gelombang protes digital yang lebih masif lagi. Kombinasi antara aktivis senior yang rela mengorbankan nyawa dan militanisme Gen Z di media sosial mungkin akan menjadi cetak biru baru resistensi politik di negara berkembang.

Nama "Cockroach" yang diusung oleh partai ini sengaja dipilih untuk merepresentasikan ketangguhan generasi muda yang sulit dihilangkan oleh sistem yang korup. Metafora tersebut resonan kuat di kalangan netizen India yang frustrasi dengan birokrasi lambat.

Mengapa Ini Penting

Fenomena meledaknya pengikut CJP di Instagram menunjukkan bahwa platform media sosial kini menjadi mesin utama mobilisasi politik Gen Z di negara berkembang, menggeser peran partai tradisional. Bagi Indonesia, ini menjadi peringatan agar integritas sistem ujian berbasis komputer dan transparansi data seleksi nasional dijaga ketat untuk mencegah amarah generasi muda. Kegagalan infrastruktur digital dalam seleksi pendidikan tidak lagi sekadar masalah administrasi, melainkan sudah berpotensi memicu krisis kepercayaan sosial-politik yang masif.

Sumber Asli
Al Jazeera
Tanggal
14 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit