Kecemasan kini menyelimuti industri pariwisata selam di Sabah, Malaysia. Richard Swann, seorang operator tur selam, mengungkapkan bahwa setiap calon wisatawan kini selalu mempertanyakan kualitas kesehatan terumbu karang sebelum memutuskan untuk melakukan pemesanan. Pertanyaan yang dulunya dianggap aneh karena reputasi perairan Borneo sebagai destinasi selam kelas dunia, kini menjadi kekhawatiran utama akibat penurunan kualitas ekosistem laut yang semakin nyata.
Sabah merupakan bagian krusial dari Coral Triangle atau Segitiga Terumbu Karang, kawasan dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia. Wilayah ini menjadi rumah bagi lebih dari 76 persen spesies karang global sekaligus menjadi tumpuan ekonomi bagi jutaan nelayan di Asia Tenggara. Namun, keberlanjutan ekosistem yang rentan ini kini berada di bawah bayang-bayang ekspansi industri energi yang masif.
Sebuah laporan terbaru yang diterbitkan oleh organisasi pengawas lingkungan, RimbaWatch, memberikan peringatan keras terkait masa depan ekosistem laut Malaysia. Temuan dalam laporan tersebut menunjukkan bahwa sebanyak 86,8 persen dari area sensitif lingkungan laut di Malaysia kini tumpang tindih dengan blok konsesi produksi minyak dan gas. Situasi ini memicu perdebatan panjang mengenai prioritas antara keuntungan ekonomi jangka pendek dan pelestarian warisan alam.
Laporan yang dirilis pada 8 Juni tersebut memetakan secara komprehensif lokasi blok minyak dan gas lepas pantai yang aktif maupun yang masih dalam tahap perencanaan. Data tersebut kemudian disandingkan dengan peta lokasi terumbu karang, kawasan konservasi laut, serta ekoregion Sulu-Sulawesi yang luas. Hasil pemetaan ini menegaskan bahwa sebagian besar wilayah konservasi justru berada dalam radius ancaman aktivitas ekstraktif.
Kekhawatiran praktisi pariwisata mengenai pemutihan karang (coral bleaching) dan degradasi lingkungan kini memiliki landasan ilmiah yang kuat. Para aktivis lingkungan mendesak pemerintah untuk meninjau kembali kebijakan eksplorasi energi di wilayah sensitif tersebut. Pasalnya, kerusakan permanen pada terumbu karang tidak hanya akan mematikan sektor pariwisata, tetapi juga merusak ketahanan pangan laut yang menjadi sandaran hidup masyarakat pesisir.
Tanpa intervensi kebijakan yang tegas untuk membatasi aktivitas lepas pantai di kawasan lindung, masa depan keanekaragaman hayati laut Malaysia berada di titik nadir. Publik kini menunggu langkah pemerintah dalam menyeimbangkan antara kebutuhan energi nasional dengan kewajiban melindungi ekosistem laut yang tidak dapat diperbarui demi generasi mendatang.