Perayaan hari jadi Amerika Serikat yang ke-250 tahun di Brussels, Belgia, baru-baru ini justru menyingkap keretakan hubungan diplomatik yang kian nyata antara Washington dan sekutu tradisionalnya di Eropa. Meski acara tersebut digelar dengan meriah di sebuah taman publik yang terletak sangat dekat dengan markas Komisi Eropa, suasana perayaan tidak mampu menutupi ketegangan politik yang mendasari hubungan transatlantik saat ini.
Kehadiran pejabat tinggi Uni Eropa dalam acara tersebut tergolong sangat minim. Dari 27 komisaris yang ada, hanya tiga orang yang menyempatkan diri hadir, sementara tidak ada satu pun pemimpin puncak Uni Eropa yang terlihat di lokasi. Ketidakhadiran para petinggi ini menjadi sinyal kuat mengenai merenggangnya hubungan diplomatik, terutama di tengah kekhawatiran Eropa terhadap potensi kembalinya kebijakan proteksionis jika Donald Trump kembali memegang kendali di Amerika Serikat.
Situasi semakin memanas ketika insiden di luar agenda utama terjadi. Otoritas setempat dikabarkan sedang menyelidiki laporan kerusakan bangunan bersejarah di sekitar taman akibat kembang api yang digunakan dalam perayaan tersebut. Hal ini menambah daftar masalah yang membayangi citra Amerika Serikat di mata publik Eropa, yang saat ini sedang berada dalam posisi dilematis antara menjaga aliansi historis atau mencari kemandirian strategis.
Kontroversi mencapai puncaknya ketika Duta Besar AS untuk Belgia, Bill White, terlibat perselisihan langsung dengan awak media. Dua jurnalis dari startup berita The European Correspondent mencoba mengonfirmasi mengenai dugaan intimidasi melalui surat elektronik yang dikirimkan kepada mereka. Dalam email tersebut, White diduga menuduh para jurnalis telah mencoba membujuk grup musik Zac Brown Band agar membatalkan penampilan mereka di acara tersebut.
Alih-alih memberikan klarifikasi, Duta Besar White menolak menjawab pertanyaan tersebut. Tak lama kemudian, polisi Belgia melakukan tindakan tegas dengan mengeluarkan kedua jurnalis itu dari lokasi acara. Menurut laporan, polisi menginstruksikan pengusiran tersebut dengan alasan bahwa para jurnalis dianggap sebagai 'ancaman aktif', sebuah tindakan yang memicu kritik luas mengenai kebebasan pers dan transparansi diplomatik.
Kejadian ini menjadi pengingat bagi banyak pihak bahwa hubungan AS dan Eropa sedang berada di titik nadir. Di tengah ketidakpastian politik global, insiden di Brussels ini mencerminkan bagaimana ketegangan domestik di Amerika Serikat dapat merembet dan mengganggu stabilitas aliansi internasional yang selama ini menjadi fondasi keamanan dan ekonomi global selama berdekade-dekade.