Amerika Serikat kembali melancarkan aksi militer terhadap Iran sebagai respons atas serangan drone yang menyasar kapal kargo komersial, Ever Lovely, di Selat Hormuz. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa mereka telah melakukan operasi militer yang ditargetkan sebagai tanggapan kuat terhadap provokasi yang terjadi sehari sebelumnya. Serangan tersebut menyasar fasilitas penyimpanan rudal, gudang drone, serta pos radar pesisir milik Iran di dekat pelabuhan Sirik.
Insiden ini dipicu oleh serangan drone Iran terhadap kapal berbendera Singapura tersebut saat melintasi jalur perdagangan vital di Selat Hormuz. Pihak AS menegaskan bahwa tindakan Iran telah merusak kebebasan navigasi dan mengancam arus perdagangan internasional. Meskipun tidak ada kru yang terluka dalam serangan tersebut, kapal Ever Lovely berhasil melanjutkan perjalanannya setelah terkena proyektil di bagian dek atas.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka mengkritik tindakan tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran nyata terhadap nota kesepahaman (MoU) yang disepakati pada 17 Juni lalu. Nota tersebut sebelumnya diharapkan menjadi langkah awal untuk mengakhiri operasi militer di berbagai front, termasuk Lebanon, serta menjamin kelancaran lalu lintas kapal di perairan strategis tersebut.
Sebelumnya, ketegangan sempat mereda dengan adanya kesepakatan gencatan senjata yang dirancang untuk memberikan periode 60 hari bagi Iran untuk memfasilitasi jalur pelayaran komersial. Namun, perjanjian ini terbukti rapuh karena berlanjutnya bombardir Israel di Lebanon, yang kemudian memicu Iran untuk kembali mengancam penutupan Selat Hormuz sebagai bentuk pembalasan.
Trump mengklaim bahwa Iran meluncurkan setidaknya empat drone penyerang satu arah ke kapal-kapal yang melintas di selat tersebut. Meski militer AS berhasil menjatuhkan tiga di antaranya, satu drone tetap mengenai target. Insiden ini menimbulkan keraguan besar mengenai keberlangsungan nota kesepahaman yang telah ditandatangani, mengingat kedua belah pihak kini kembali terlibat dalam eskalasi militer yang signifikan.
Situasi di Selat Hormuz kini kembali menjadi sorotan dunia karena perannya sebagai jalur utama bagi distribusi energi dan komoditas global. Ketidakpastian mengenai akses di jalur ini telah menyebabkan lonjakan harga bahan bakar dan pupuk secara global, yang semakin memperburuk dinamika ekonomi internasional di tengah konflik regional yang tak kunjung usai.