ASUS memperkenalkan lini ExpertBook Ultra yang menyasar profesional sering berpindah tempat. Perangkat ini membawa bobot hanya 0,99 kilogram, angka yang jarang ditemui di kelas laptop bisnis 14 inci. Ketebalan bodi berkisar 1,09 hingga 1,64 sentimeter membuatnya mudah diselipkan ke tas kerja mana pun.
Daya tahan baterai menjadi andalan utama. Baterai lithium polymer densitas tinggi berkapasitas 70WHrs ditanamkan untuk menemani kerja seharian tanpa isi ulang. Adaptor pengisi daya berjenis USB-C 90W disertakan, berukuran ringkas sehingga tak menambah beban bawaan.
Kebutuhan akan perangkat mobile yang efisien meningkat seiring perubahan pola kerja masyarakat. Pasca pandemi, banyak perusahaan di Indonesia menerapkan skema hybrid working. Kafe, kereta commuter, hingga ruang coworking menjelma menjadi tempat produktivitas baru.
Di lingkungan tersebut, ketersediaan stopkontak tak selalu memadai. Pekerja terpaksa memilih antara membawa charger besar atau kehilangan momentum kerja. Laptop berat juga memicu keluhan fisik jika dibawa berjam-jam.
Oleh karena itu, produsen berlomba menghadirkan solusi portabel tanpa mengorbankan performa. ASUS menempatkan ExpertBook Ultra sebagai jawaban atas tantangan tersebut, mengutamakan mobilitas maksimal alih-alih fitur gaming atau rendering berat.
Hadirnya laptop dengan bobot sub-kilogram memiliki makna khusus bagi pekerja Indonesia. Negara dengan tingkat kemacetan tinggi dan perjalanan commuting panjang menuntut perangkat yang tak membebani punggung. Mahasiswa dan pekerja korporat yang menghabiskan tiga hingga empat jam di jalan tiap hari akan merasakan manfaat ergonomisnya.
Selain itu, ekosistem pengisian daya USB-C mulai merata di Tanah Air. Kesesuaian ExpertBook Ultra dengan charger PD standar memungkinkan pengguna meminjam daya dari powerbank besar atau laptop lain. Fleksibilitas ini mengurangi kecemasan baterai saat bertugas di daerah dengan pasokan listrik tidak stabil.
Segmentasi pasar untuk perangkat premium ini diprediksi menyasar kalangan eksekutif dan konsultan. Namun, ketersediaan layar OLED 14 inci dengan kecerahan 600 nits juga membuka peluang bagi kreator konten ringan. Persaingan dengan vendor seperti Lenovo ThinkPad X1 Nano atau Dell XPS 13 akan semakin ketat di kelas ultralight.
Dari sisi spesifikasi, ASUS mengandalkan prosesor Intel Core Ultra yang mengintegrasikan NPU hingga 50 TOPS. Unit pemrosesan neural ini memungkinkan tugas berbasis kecerdasan buatan berjalan tanpa memboroskan daya. Manajemen daya cerdas disebut memperpanjang waktu pakai per siklus pengisian.
Layar Tandem OLED pada perangkat turut berkontribusi pada efisiensi energi. Teknologi tersebut menampilkan warna akurat sekaligus hemat listrik saat menampilkan konten gelap. Fitur anti-glare membantu pekerja membaca dokumen di bawah sinar matahari langsung, kondisi umum di luar ruangan.
Tren laptop ultra-ringan dengan baterai besar dipastikan berlanjut tahun depan. Intel dan kompetitor sudah menyiapkan arsitektur chip hemat daya generasi berikutnya. ASUS kemungkinan akan memperluas varian ExpertBook dengan opsi konektivitas 5G internal untuk mendukung mobilitas tanpa Wi-Fi publik.
Bagi konsumen Indonesia, kehadiran produk seperti ExpertBook Ultra mendorong standar baru kenyamanan kerja. Pilihan perangkat yang mengutamakan portabilitas dan daya tahan akan menjadi pertimbangan utama, melebihi sekadar kecepatan prosesor. Produsen lokal juga ditantang untuk menyesuaikan penawaran serupa agar tak tertinggal.