Australia dan Vietnam sepakat memperdalam kemitraan strategis komprehensif mereka. Kesepakatan itu ditandai dengan penandatanganan sejumlah perjanjian kerja sama di bidang pertahanan, pertanian, hingga keamanan perbatasan, yang disaksikan langsung oleh Perdana Menteri Australia Anthony Albanese dan Presiden Vietnam To Lam di Canberra, Selasa (11/8).
Dalam pernyataan bersama yang dirilis saat kunjungan resmi Lam ke Australia, kedua negara menyatakan keprihatinan atas praktik perdagangan restriktif yang dinilai mengganggu rantai pasok global. Mereka pun sepakat memperkuat kerja sama di bidang rantai pasok, terutama untuk mineral kritis, semikonduktor, dan energi bersih.
Kesepakatan ini menjadi tonggak baru hubungan bilateral kedua negara yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Sebelumnya, Australia dan Vietnam telah menetapkan hubungan kemitraan strategis komprehensif pada Maret 2024, dan kunjungan Lam kali ini semakin mengokohkan komitmen kedua belah pihak untuk memperluas kerja sama di berbagai sektor.
Salah satu poin penting dalam kerja sama ini adalah penandatanganan nota kesepahaman antara Penjaga Pantai Vietnam dan Australian Border Force. Nota kesepahaman ini bertujuan meningkatkan kerja sama penegakan hukum maritim, sejalan dengan kekhawatiran kedua negara terhadap keamanan jalur pelayaran di kawasan Indo-Pasifik.
Selain itu, pemerintah Vietnam juga menyebut adanya perjanjian lain untuk meningkatkan kerja sama dan bantuan timbal balik antara pasukan perbatasan kedua negara. Langkah ini menunjukkan bahwa dimensi keamanan menjadi fokus utama dalam penguatan hubungan bilateral Australia-Vietnam.
"Kami sepakat bahwa di tengah perkembangan dunia yang cepat dan kompleks, negara-negara perlu memperkuat dialog, membangun kepercayaan, memastikan keamanan serta kebebasan navigasi dan penerbangan di atas laut, dan menyelesaikan sengketa dengan cara damai sesuai hukum internasional," ujar Lam dalam konferensi pers bersama Albanese.
Pernyataan Lam tersebut menggarisbawahi posisi kedua negara terhadap dinamika geopolitik di kawasan. Australia secara rutin mengerahkan kapal angkatan laut dan pesawat pengintai di Laut China Selatan sebagai bagian dari operasi Indo-Pasifiknya. Pada April lalu, Australia bersama Kanada dan Amerika Serikat melakukan transit multilateral di perairan yang menjadi lokasi klaim tumpang tindih antara Vietnam, China, dan sejumlah negara lain itu.
Bagi Indonesia, penguatan kerja sama Australia-Vietnam ini menarik untuk dicermati. Kedekatan kedua negara semakin erat di tengah meningkatnya rivalitas antara Amerika Serikat dan China di kawasan. Indonesia sendiri memiliki kepentingan besar terhadap kebebasan navigasi dan stabilitas di Laut China Selatan, mengingat posisinya yang strategis di jalur perdagangan internasional.
Dari sisi ekonomi, kerja sama ini juga membawa dampak signifikan bagi kawasan. Perdagangan bilateral Australia-Vietnam tercatat mencapai US$8,1 miliar pada paruh pertama 2026, meningkat 22 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Vietnam mengandalkan ekspor elektronik, ponsel pintar, dan garmen ke Australia, sementara Australia memasok batu bara, mineral, dan gas alam ke Vietnam.
Angka pertumbuhan itu menunjukkan potensi besar yang belum tergarap maksimal. Dengan adanya kesepakatan kerja sama di bidang mineral kritis dan semikonduktor, arus investasi dan perdagangan di sektor teknologi diperkirakan akan semakin deras. Ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi Indonesia yang juga tengah gencar mengembangkan industri pengolahan mineral dan baterai kendaraan listrik.
Indonesia sebenarnya memiliki posisi tawar yang tidak kalah kuat, terutama dengan cadangan nikel terbesar di dunia yang menjadi bahan baku utama baterai. Namun, tanpa kerja sama strategis yang jelas dengan negara-negara maju seperti Australia, Indonesia berisiko tertinggal dalam persaingan rantai pasok global untuk mineral kritis dan semikonduktor.
Kendati demikian, para pengamat menilai langkah Australia memperkuat hubungan dengan Vietnam merupakan bagian dari strategi diversifikasi mitra di kawasan. Australia tidak ingin terlalu bergantung pada China sebagai mitra dagang utama, dan Vietnam dinilai sebagai salah satu kekuatan ekonomi baru yang paling dinamis di Asia Tenggara.
Ke depan, kerja sama Australia-Vietnam diperkirakan akan terus meluas, termasuk di bidang energi bersih dan transformasi digital. Kedua negara juga diprediksi akan lebih aktif dalam menjaga stabilitas kawasan, terutama dalam hal keamanan maritim dan penegakan hukum di laut. Bagi Indonesia, dinamika ini menjadi pengingat bahwa persaingan pengaruh di kawasan semakin ketat, dan diperlukan langkah strategis agar tidak menjadi penonton di tengah perubahan besar yang sedang terjadi.