Sains

Badan Geologi Tingkatkan Status Gunung Anak Krakatau ke Level III Siaga

Badan Geologi Tingkatkan Status Gunung Anak Krakatau ke Level III Siaga

Ringkasan

  • Badan Geologi resmi menaikkan status Gunung Anak Krakatau ke Level III (Siaga) menyusul peningkatan aktivitas vulkanik dan gempa dangkal.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral resmi meningkatkan status aktivitas Gunung Anak Krakatau dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga). Keputusan ini mulai diberlakukan efektif per tanggal 2 Juli 2026 pukul 16.30 WIB, setelah melalui analisis dan evaluasi menyeluruh terhadap dinamika aktivitas vulkanik gunung tersebut.

Plt. Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menegaskan bahwa peningkatan status ini didasarkan pada pemantauan intensif yang menunjukkan adanya eskalasi aktivitas magma di permukaan. Pihak otoritas telah menetapkan zona larangan beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat kawah. Masyarakat, wisatawan, maupun pendaki dilarang keras memasuki wilayah tersebut demi menghindari risiko bahaya dari awan panas, lava, lontaran batu pijar, hingga ancaman hujan abu vulkanik yang pekat.

Data pemantauan satelit Sentinel sejak awal Juni 2026 menjadi indikator awal peningkatan status ini, di mana terdeteksi emisi gas SO2 dan anomali panas yang signifikan. Puncaknya, pada 10 Juni 2026, terpantau munculnya titik api di kawah yang disertai dengan peningkatan frekuensi gempa dangkal, termasuk gempa embusan, hybrid, dan low frequency yang secara konsisten terjadi lebih dari 50 kali per hari.

Secara teknis, catatan kegempaan periode 16 Juni hingga 2 Juli 2026 menunjukkan aktivitas yang sangat intens dengan total ratusan kali gempa embusan dan hybrid. Meskipun tidak diikuti dengan deformasi besar atau gempa vulkanik dalam, dinamika magma di permukaan dianggap cukup tinggi untuk memicu erupsi, sebagaimana terbukti pada letusan 2 Juli 2026 yang menghasilkan kolom abu setinggi 200 meter.

Badan Geologi juga mencatat adanya peningkatan intensitas asap kawah yang berwarna kelabu dengan muatan abu vulkanik tipis yang mengarah ke barat-barat laut. Fenomena ini bahkan telah terdeteksi oleh Volcanic Ash Advisory Centres (VAAC) Darwin, Australia, yang menunjukkan perlunya kewaspadaan bagi rute penerbangan dan aktivitas di sekitar Selat Sunda.

Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi ancaman erupsi. Pemerintah terus memantau grafik RSAM (Real-time Seismic Amplitude Measurement) dan pergerakan deformasi tanah secara real-time untuk memberikan peringatan dini yang akurat kepada publik dan pemangku kepentingan terkait di wilayah pesisir.

Mengapa Ini Penting

Peningkatan status aktivitas gunung api ini krusial bagi keselamatan publik dan operasional transportasi udara di wilayah Selat Sunda. Sektor mitigasi bencana dan logistik maritim perlu segera menyesuaikan protokol keselamatan untuk meminimalkan dampak risiko erupsi terhadap infrastruktur strategis nasional.

Sumber Asli
Tekno
Tanggal
3 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit