Badan Penanggulangan Bencana Nepal (NDRRA) memperkirakan setidaknya 675 nyawa tewas akibat banjir bandang yang menyapu wilayah pegunungan sehari sebelumnya. Tujuh korban tambahan dilaporkan di Tibet, sehingga total kematian mencapai 682 orang. Jumlah penguarga yang dinyatakan hilang masih mencapai 2.426 orang, termasuk 517 warga negara asing dan 933 pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Di sisi lain, otoritas India menemukan tujuh jenazah di sungai-sungai yang mengalir dari Nepal. Jenazah-jenazah ini belum dimasukkan ke dalam angka resmi karena belum ada konfirmasi identitasnya secara pasti.
Latar belakang bencana ini berakar pada kondisi geologi yang rentan. Sungai Lhende Khola, yang melewati Nepal dan Tibet, mengalami longsoran es dan batuan menyertai banjir bandang. Awalnya dugaan gempa bumi sebagai pemicu, namun Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) tidak mendeteksi aktivitas seismik sebelumnya. Bencana ini menegaskan betapa rawannya wilayah pegunungan Himalaya terhadap perubahan iklim ekstrim.
Dampaknya tidak terbatas pada Nepal. Ribuan pekerja asing, termasuk pekerja konstruksi PLTA, terjebak dalam daerah yang sulit dijangkau. Di India, pihak berwenang khawatir bencana ini bisa memicu gelombang pengungsi melewati perbatasan. Sementara itu, prajurit Angkatan Darat Nepal, petugas kepolisian, dan petugas imigrasi juga tercatat sebagai korban hilang dalam operasi penyelamatan.
Pemerintah Nepal akhirnya memutuskan meminta bantuan khususis dari India dan China. Tim penyelamat terowongan dikirim dari kedua negara tersebut. Menteri Luar Negeri Nepal menyatakan keputusan ini dilatarkan oleh risiko nyawa yang sangat mendesak. Awalnya pemerintah enggan membuka pintu bantuan asing untuk menghindari kekacauan logistik di medan pegunungan yang tersebar.
Indonesia pernah mengalami bencana serupa seperti banjir bandang di Sawahluhurung dan tanah longsor di Selat Sunda. Namun sistem peringatan dini dan evakuasi massal di Nepal tampaknya belum optimal. Teknologi pemantauan cuaca real-time dan model prediksi banjir masih perlu penguatan, terutama di wilayah terpencil.
Para ahli hidrologi menilai perubahan iklim memperparah frekuensi banjir bandang ekstrem. Curah hujan intensif yang tidak terduga justru menjadi pemicu utama, bukan gempa bumi sebagaimana diperkirakan awal.
Kementerian Luar Negeri Nepal menegaskan koordinasi dengan mitra internasional akan dipercepat. Bantuan logistik, medis, dan psikososial kini menjadi prioritas bersama. Tim gizi khusuh juga siap untuk mencegah krisis gizi akibat pengungsian panjang.
UNICEF dan organisasi kemanusiaan lain telah mengirim tim darurat. Mereka menyoroti betapa rentannya anak-anak dan wanita hamil dalam situasi bencana ini. Akses ke daerah yang terpencil tetap menjadi tantangan utama.
Pasca bencana, pemerintah Nepal berkomitmen melakukan relokasi warga dari zona rawan. Namun kendala lahan dan infrastruktur membuat relokasi tidak mudah. Banyak pekerja PLTA yang tinggal di permukiman sementara di tepi sungai, justru berada di zona bahaya.
Di masa depan, ekspert disarankan agar pemerintah Nepal menggiring anggaran untuk sistem peringatan dini berbasis teknologi jauh sebelum musim hujan. Kolaborasi dengan lembaga iklim global juga perlu diperluas agar prediksi bisa lebih akurat.
Kementerian Energi Nepal menyatakan semua proyek PLTA di wilayah pegunungan kini dalam status evaluasi. Beberapa lokasi mungkin harus ditarik kembali jika risiko bencana tetap tinggi.
Ketua Badan Nasional Pengurangan Risiko dan Manajemen Bencana Nepal menegaskan komunikasi dengan keluarga korban akan dilakukan secara transparan. Daftar korban hilang akan diperbarui setiap 12 jam hingga semua orang terlacak.
Sementara itu, tim medis darurat kini telah mendirikan puskester di tiga distrik paling parah. Mereka menyiapkan perlengkapan untuk operasi darurat dan pengobatan intensif. Tim gizi juga siap untuk mencegah krisis gizi akibat pengungsian panjang.
Pemerintah India menyatakan siap membantu identifikasi jenazah yang ditemukan di seberang perbatasan. Proses forensik akan dilakukan bersama ahli dari kedua negara untuk memastikan identitas korban.
Dari sudut pandang keamanan, Angkatan Bersenjata Nepal menyatakan semua operasi penyelamatan akan tetap berjalan meski kondisi medan sulit. Penggunaan dron dan teknologi satelit kini menjadi bagian penting dalam pencarian korban.
Kementerian Lingkungan Hidup Nepal juga turun tangan untuk menilai dampak jangka panjang. Laporan awal menunjukkan ekosistem hutan dan sungai mengalami kerusakan signifikan. Rehabilitasi lingkungan akan menjadi bagian penting dalam fase pemulihan.
Pemerintah Nepal menargetkan agar semua evakuasi selesai dalam tiga hari ke depan. Setelah itu, fokus beralih ke rekonstruksi dan perencanaan jangka panjang untuk mencegah bencana serupa terulang.
Sementara itu, warga sipil yang selamat dilaporkan sedang mengungsi di pusat pengungsian sementara. Mereka membutuhkan bantuan dasar seperti makanan, air bersih, dan perlindungan dari cuaca ekstrem.
UNICEF menyoroti betapa pentingnya dukungan psikologis bagi anak-anak korban. Banyak yang mengalami trauma pasca-bencana dan membutuhkan pendampingan jangka panjang.
Di sisi lain, tim logistik gabungan dari Nepal, India, dan China kini sedang mengkoordinasikan pengiriman bahan baku ke daerah terdampak. Infrastruktur jalan rusak akibat banjir menjadi kendala utama dalam distribusi bantuan.
Pemerintah Nepal menyatakan semua keputusan akan didasarkan pada rekomendasi teknis dari ahli bencana. Kolaborasi internasional tidak hanya terbatas pada penyelamatan, tetapi juga pencegahan dan adaptasi iklim di masa depan.
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/internasional/20260829221330-113-1397857/korban-tewas-banjir-bandang-nepal-tambah-jadi-682-orang-ribuan-hilang