Sebuah spanduk Hari Nasional yang dirancang dengan kecerdasan buatan (AI) di Bedok, Singapura, ditarik dari publik setelah banyak orang menyadari adanya kesalahan fatal dalam desainnya. Spanduk yang seharusnya memeriahkan perayaan tersebut justru menampilkan empat bendera dengan tiga di antaranya tidak akurat – dua menyerupai bendera merah-putih Indonesia, sementara yang ketiga tampak terdistorsi secara digital. Kesalahan lain termasuk gambar seorang gadis dengan poni yang menempel di telinganya, pengibar bendera tanpa bendera, serta grafis tangan yang membentuk hati namun terlihat kabur. Setelah foto spanduk ini diunggah di sebuah grup Facebook pada Senin (21/7) malam, warga merasa geram dan akhirnya pihak pengelola segera mengganti spanduk tersebut pada hari yang sama.
Kesalahan visual tersebut menjadi viral di media sosial dan memicu perdebatan tentang penggunaan AI dalam desain publik. Kampong Chai Chee Community Club menjelaskan bahwa spanduk tersebut dibuat dan dibiayai oleh warga yang ingin merayakan Hari Nasional Singapura dengan cara yang kreatif. Banyak relawan yang terlibat adalah lansia yang dengan sukarela menyumbangkan waktu dan tenaga untuk menghidupkan suasana di lingkungan mereka. Pihak klub menegaskan bahwa para relawan tidak menyadari adanya "ketidaktepatan" dalam desain tersebut. "Begitu masalah ini kami ketahui, warga segera mengganti spanduk pada hari yang sama," kata klub dalam keterangannya di Facebook.
Selain kesalahan bendera, banyak pengguna media sosial mengkritik keputusan untuk menggunakan AI daripada melibatkan desainer profesional. Mereka mempertanyakan proses persetujuan yang memungkinkan spanduk tersebut dipajang tanpa pemeriksaan yang memadai. Foto-foto spanduk Hari Nasional lain di estate yang sama, yang juga diduga dibuat dengan AI, muncul dalam komentar di postingan Facebook tersebut. Kampong Chai Chee Community Club menyatakan bahwa insiden ini menjadi "pengingat penting bahwa AI bisa menjadi alat yang berguna, tetapi hasilnya harus selalu diperiksa sebelum digunakan".
Di Indonesia, penggunaan AI untuk keperluan dekorasi publik juga mulai meningkat, terutama pada momen-momen nasional seperti Hari Kemerdekaan. Beberapa daerah di Jawa dan Sumatra pernah menggunakan desain AI untuk spanduk dan baliho, namun tidak sedikit yang mengalami kesalahan serupa – mulai dari bendera yang terbalik hingga teks yang tidak terbaca. Desainer grafis lokal seperti Rina Susanto dari Yogyakarta menekankan pentingnya pengawasan manusia. "AI bisa mempercepat proses, tetapi tanpa sentuhan editor, hasilnya bisa terlihat janggal dan merugikan citra sebuah acara," ujarnya.
Insiden di Singapura ini mencerminkan kekhawatiran yang juga muncul di kalangan industri kreatif Indonesia. Banyak perusahaan startup teknologi yang menawarkan layanan desain AI dengan harga murah, namun kualitasnya sering kali tidak konsisten. Asosiasi Desainer Indonesia (ADI) pernah mengeluarkan peringatan tentang risiko penggunaan alat tersebut untuk keperluan resmi, terutama pada momen yang sensitif secara budaya. "Kita harus balancesi antara efisiensi biaya dan integritas visual," kata ketua ADI, Budi Hartono, dalam sebuah webinar awal tahun ini.
Kutipan resmi dari Kampong Chai Chee Community Club menjadi sorotan: "Spanduk ini dibuat dan dibiayai oleh warga yang ingin merayakan Hari Nasional Singapura dan membawa kemeriahan bagi komunitas kami. Banyak relawan adalah lansia yang dengan murah hati memberikan waktu dan tenaga mereka untuk membuat estate kami lebih hidup bagi semua orang. Mereka tidak menyadari adanya ketidaktepatan dalam desain tersebut." Pernyataan ini menunjukkan bahwa meskipun teknologi bisa memfasilitasi partisipasi masyarakat, pengetahuan tentang desain tetap diperlukan.
Ke depan, diharapkan akan ada pedoman yang lebih ketat mengenai penggunaan AI dalam proyek-proyek publik. Pemerintah Singapura melalui Kementerian Teknologi dan Desain telah mengumumkan rencana untuk membentuk tim peninjau yang melibatkan seniman dan akademisi untuk mengevaluasi karya AI sebelum dipublikasikan. Di Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Informatika juga sedang merancang regulasi serupa, terutama untuk konten yang terkait dengan simbol negara dan hari raya nasional. Langkah ini bertujuan untuk mencegah kesalahan visual yang bisa merusak makna sebuah acara.
Insiden ini menjadi pelajaran bagi komunitas di mana pun bahwa teknologi hanyalah alat. Sebelum sebuah karya AI dipajang di ruang publik, pemeriksaan manusia yang cermat tetap menjadi langkah terakhir yang tidak bisa diabaikan. Dengan demikian, semangat merayakan hari besar nasional tetap terjaga tanpa ternoda oleh kesalahan teknis yang bisa dihindari.