Wilayah selatan China dilanda bencana alam serius setelah curah hujan ekstrem yang dipicu oleh Topan Maysak menyebabkan jebolnya bendungan di wilayah otonom Guangxi Zhuang. Banjir bandang yang dihasilkan dari kegagalan infrastruktur ini telah memaksa otoritas setempat untuk melakukan evakuasi massal terhadap ratusan warga yang tinggal di kawasan hilir guna menghindari risiko korban jiwa.
Berdasarkan laporan resmi dari pemerintah kota Nanning, kerusakan dan luapan air terdeteksi di beberapa titik waduk di Kota Hengzhou dan Kabupaten Binyang pada hari Senin. Intensitas hujan yang tidak kunjung reda membuat pihak berwenang meningkatkan status kewaspadaan, mengingat potensi ancaman terhadap bendungan lain di sekitar wilayah tersebut masih sangat tinggi.
Salah satu insiden paling signifikan terjadi di Waduk Liulan, Hengzhou, di mana dua bagian tanggul bendungan dilaporkan jebol sekitar pukul 11.00 waktu setempat. Kerusakan struktur ini menciptakan celah sepanjang 50 meter yang melepaskan volume air dalam jumlah besar ke area pemukiman di sepanjang jalur sungai, sehingga memicu kepanikan di kalangan penduduk lokal.
Tim penyelamat dan tim evakuasi segera dikerahkan oleh pemerintah daerah untuk memandu warga menuju dataran yang lebih tinggi. Menurut keterangan staf operasional di Waduk Liulan, lebih dari 300 orang telah berhasil dipindahkan ke lokasi yang lebih aman, dan hingga saat ini, belum ada laporan mengenai korban jiwa akibat insiden jebolnya bendungan tersebut.
Otoritas China telah mengeluarkan instruksi tegas agar masyarakat menjauhi area terdampak, tepian sungai, serta kawasan dataran rendah yang rawan banjir. Mengingat prakiraan cuaca yang menunjukkan kondisi buruk akan terus berlanjut di bawah pengaruh Topan Maysak, pemantauan ketat terhadap integritas bendungan dan infrastruktur air lainnya terus dilakukan oleh tim ahli di lapangan.
Kejadian ini menyoroti kerentanan infrastruktur sipil terhadap fenomena cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi di wilayah Asia. Pemerintah daerah terus berupaya melakukan langkah mitigasi darurat untuk meminimalisir dampak lebih lanjut, sembari memastikan logistik bagi para pengungsi tetap tersedia selama masa tanggap darurat berlangsung.