Frankfurt, 6 Juli – Sistem pembayaran Bank Sentral Eropa (ECB) kembali mengalami gangguan teknis pada Senin pagi, menandai insiden kedua dalam kurun waktu satu pekan terakhir. Gangguan ini memicu kekhawatiran mengenai stabilitas infrastruktur keuangan utama di zona euro yang memproses triliunan euro setiap harinya.
Sistem yang dikenal sebagai T2 tersebut dilaporkan tidak dapat diakses selama kurang lebih 40 menit pada awal jam operasional Senin. Akibat dari kendala teknis ini, proses penyelesaian transaksi keuangan dalam mata uang euro serta mata uang krona Denmark sempat mengalami penundaan yang cukup signifikan bagi para pelaku pasar.
Seorang bendahara dari salah satu bank besar di zona euro mengonfirmasi bahwa terdapat beberapa laporan mengenai keterlambatan transaksi pada awal hari kerja. Meskipun pihak bank sentral menyatakan bahwa masalah tersebut telah berhasil diatasi, insiden ini tetap menimbulkan ketidaknyamanan bagi lembaga keuangan yang bergantung pada sistem tersebut untuk likuiditas harian mereka.
Menanggapi kejadian berulang tersebut, juru bicara ECB menjelaskan bahwa gangguan pada Senin pagi serta insiden serupa yang terjadi pada 29 Juni lalu disebabkan oleh pembaruan perangkat lunak (software update) terbaru. Pembaruan tersebut diklaim telah memperkenalkan celah teknis yang kini sudah diperbaiki sepenuhnya oleh tim teknis internal.
ECB menegaskan bahwa sistem saat ini sudah beroperasi secara normal dan seluruh transaksi yang tertunda telah diproses kembali. Pihak otoritas moneter tersebut juga menyatakan komitmennya untuk melakukan evaluasi mendalam guna memastikan stabilitas sistem pembayaran tetap terjaga di masa depan, mengingat peran krusial T2 bagi ekonomi kawasan.
Sebagai catatan, sistem T2 memang memiliki riwayat kerentanan teknis. Tahun lalu, sistem ini sempat mengalami pemadaman selama tujuh jam yang disebabkan oleh kegagalan perangkat keras (hardware failure). Insiden tersebut berdampak lebih luas, termasuk tertundanya pembayaran gaji dan tunjangan sosial bagi ribuan masyarakat di zona euro, serta mengganggu transaksi di pasar keuangan global.