Sedikitnya 15 tentara pemerintah Yaman dilaporkan tewas dalam pertempuran sengit melawan kelompok pemberontak Houthi di wilayah kegubernuran Hodeidah, Yaman bagian barat. Insiden ini menandai salah satu eskalasi kekerasan paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir di sepanjang garis pantai barat negara tersebut.
Walid al-Qudaimi, menteri negara sekaligus anggota kabinet yang berafiliasi dengan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, mengonfirmasi bahwa para prajurit yang berasal dari wilayah Tihama tersebut gugur saat mempertahankan posisi mereka di area Jabal Dabbas. Dalam pernyataannya melalui platform X, ia menegaskan bahwa para tentara tersebut tewas saat berupaya melindungi kedaulatan dan kehormatan wilayah mereka.
Di sisi lain, pemerintah Yaman mengklaim telah melumpuhkan lebih dari 50 pejuang Houthi dalam pertempuran tersebut, sementara puluhan lainnya dilaporkan mengalami luka-luka. Hingga saat ini, pihak Houthi belum memberikan tanggapan resmi atau komentar terkait klaim korban jiwa yang disampaikan oleh pihak pemerintah.
Seorang perwira militer pro-pemerintah yang berada di lokasi kejadian mengungkapkan bahwa pertempuran tersebut berlangsung sangat intens. Menurut keterangannya, kelompok Houthi sempat berhasil menduduki posisi militer pemerintah setelah melancarkan serangan mendadak pada Jumat malam. Namun, pasukan pemerintah segera melakukan serangan balik dan berhasil merebut kembali wilayah tersebut menjelang Sabtu fajar.
Sumber militer tersebut menambahkan bahwa serangan ini merupakan salah satu operasi Houthi paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir. Taktik yang digunakan oleh pemberontak melibatkan penggunaan penembak jitu (sniper) yang mengakibatkan sebagian besar korban jiwa, diikuti dengan serangan drone dan tembakan mortir ke arah pos pertahanan pemerintah.
Konflik antara pemerintah Yaman yang didukung koalisi internasional dan kelompok Houthi telah berlangsung sejak tahun 2015. Meskipun garis depan pertempuran relatif stabil sejak gencatan senjata yang dimediasi PBB pada tahun 2022, kekerasan sporadis terus terjadi. Eskalasi terbaru ini dipicu oleh ancaman Houthi terhadap fasilitas vital dan bandara di Arab Saudi, yang meningkatkan kekhawatiran akan kembali meluasnya konflik regional di Timur Tengah.