Ratusan petugas pemadam kebakaran di berbagai wilayah Eropa bagian selatan tengah berjuang keras melawan kebakaran hutan yang meluas secara masif. Insiden yang terjadi pada awal Juli 2026 ini memaksa ratusan warga untuk segera mengungsi dari rumah mereka di tengah malam, serta mengancam kelancaran ajang balap sepeda bergengsi Tour de France.
Kebakaran hebat ini telah melahap lebih dari 42.000 hektar lahan di Portugal, Spanyol, Prancis, dan Yunani. Luas area yang terbakar tersebut setara dengan dua kali lipat luas wilayah Manhattan. Situasi diperparah dengan prediksi kenaikan suhu yang diperkirakan akan mencapai 40 derajat Celsius di sejumlah titik wilayah terdampak.
Salah satu warga yang dievakuasi di dekat Perpignan, Prancis, Charlotte Pignol, menceritakan kepanikan saat api mendekat ke permukiman. Ia menuturkan bahwa aroma asap yang menyengat dan kehadiran puluhan truk pemadam kebakaran menjadi pemandangan mencekam sebelum ia diminta segera meninggalkan rumah oleh otoritas setempat.
Para ilmuwan dari World Weather Attribution menegaskan bahwa gelombang panas yang terjadi saat ini hampir mustahil terjadi tanpa adanya dampak perubahan iklim. Kondisi ini diperburuk dengan fenomena musim kebakaran hutan tahunan yang datang satu bulan lebih awal dari biasanya, membuat otoritas pemadam kebakaran Prancis merasa kewalahan.
Di Yunani, situasi menjadi lebih berbahaya ketika kobaran api menjalar ke dua pabrik di Thessaloniki. Kebakaran tersebut memicu kepulan asap hitam pekat dari pabrik daur ulang dan kompleks pengolahan minyak, yang memaksa pemerintah setempat mengeluarkan peringatan kesehatan agar warga tetap menutup jendela guna menghindari risiko keracunan udara.
Sementara itu di Spanyol, kebakaran di dekat pesisir Costa Brava telah membakar lebih dari 2.200 hektar lahan dalam kurun waktu dua hari. Petugas pemadam kebakaran menyatakan bahwa upaya pengendalian api akan menjadi semakin rumit karena kenaikan suhu yang berkelanjutan dan banyaknya titik api tersembunyi di dalam area yang telah terbakar.