Internasional

Biaya Hidup Meningkat, Kolektor di Singapura Ramai-ramai Jual Koleksi Mainan dan Kartu

Biaya Hidup Meningkat, Kolektor di Singapura Ramai-ramai Jual Koleksi Mainan dan Kartu

Ringkasan

  • Kolektor di Singapura kini ramai menjual mainan dan kartu koleksi mereka untuk menghadapi kenaikan biaya hidup dan kebutuhan finansial mendesak.

SINGAPURA: Fenomena menarik tengah melanda komunitas kolektor di Singapura. Berbagai barang koleksi yang dulunya dipajang dengan bangga, seperti kartu Pokemon, figurin Bearbrick, hingga komik langka, kini mulai banyak dijual ke pasar. Langkah ini diambil oleh para pemiliknya sebagai cara untuk mendapatkan uang tunai di tengah tekanan kenaikan biaya hidup yang kian menghimpit.

Para pelaku industri mencatat adanya lonjakan signifikan jumlah kolektor yang ingin melepas aset berharga mereka dalam beberapa tahun terakhir. Selain untuk menutupi kebutuhan pokok dan biaya rumah tangga, dana hasil penjualan koleksi ini sering kali dialokasikan untuk membayar uang muka perumahan, biaya renovasi, hingga kebutuhan mendesak bagi keluarga yang baru memiliki anak.

Sugoi Collection, toko yang bergerak di bidang mainan dan koleksi di Orchard Central, melaporkan peningkatan jumlah penjual hingga 50 persen dibandingkan empat tahun lalu. Pemiliknya, Shawn Xu, mengungkapkan bahwa banyak dari penjual ini adalah pasangan muda yang ingin mengoptimalkan aset mereka. Mereka kini lebih selektif dalam membeli barang dan cenderung lebih fokus pada koleksi yang benar-benar mereka minati.

Tren serupa juga terlihat di sektor kartu koleksi. Toko seperti Shane Collectibles and Consignment dan SC Collection mencatat kenaikan jumlah kolektor yang menjual kartu hingga 30 persen. Mayoritas penjual berada di rentang usia 20 hingga 40 tahun. Menurut pemilik toko, alasan finansial praktis menjadi pendorong utama, mulai dari arus kas bisnis hingga kebutuhan untuk menyambung hidup setelah kehilangan pekerjaan.

Salah satu daya tarik utama dari barang koleksi adalah likuiditasnya yang tinggi. Transaksi dapat diselesaikan dengan cepat, terkadang hanya dalam waktu 10 menit dengan nilai yang bervariasi dari ratusan hingga puluhan ribu dolar. Beberapa kolektor bahkan mulai memperlakukan kartu koleksi sebagai aset investasi, di mana mereka akan melakukan 'cashing out' ketika harga pasar mencapai titik tertinggi.

Namun, menjual koleksi tidak selalu berarti hilangnya minat terhadap hobi tersebut. Banyak kolektor yang sebenarnya masih memiliki keterikatan emosional dengan barang-barang mereka. Penjualan ini sering kali dipandang sebagai langkah realokasi modal sementara. Tidak jarang, setelah kondisi keuangan membaik, para kolektor tersebut kembali ke pasar untuk membeli kembali barang-barang yang pernah mereka jual sebelumnya.

Mengapa Ini Penting

Fenomena ini menunjukkan bagaimana barang koleksi telah bertransformasi menjadi aset likuid bagi kelas menengah di tengah ketidakpastian ekonomi global. Bagi pasar Indonesia, ini menjadi indikator penting bahwa tren investasi alternatif dapat menjadi bantalan finansial, namun sekaligus berisiko tinggi terhadap volatilitas harga pasar sekunder.

Sumber Asli
Channelnewsasia
Tanggal
25 Juni 2026
Waktu Baca
3 menit