Block, perusahaan teknologi yang didirikan oleh mantan CEO Twitter Jack Dorsey, resmi membuka akses publik terhadap Berd, sebuah aplikasi desktop yang dirancang sebagai ruang kerja terpadu untuk mengelola berbagai AI agent. Berbeda dengan antarmuka berbasis browser yang umum ditemukan, Berd hadir sebagai aplikasi desktop lokal yang tersedia untuk sistem operasi macOS, Windows, dan Linux di bawah lisensi Apache 2.0.
Langkah ini diambil Block untuk menjawab tantangan fragmentasi dalam bekerja dengan AI. Selama ini, karyawan di berbagai perusahaan sering kali harus berpindah-pindah antara banyak platform untuk mengakses model seperti Claude, Codex, atau Goose milik Block sendiri. Dengan Berd, pengguna dapat mengintegrasikan berbagai model, alat, serta riwayat percakapan dalam satu dasbor yang tersimpan secara lokal di komputer pengguna, bukan di awan.
Brad Axen, Head of AI Capabilities di Block, menegaskan bahwa nilai utama Berd terletak pada kedekatannya dengan ekosistem kerja pengguna. Karena beroperasi secara lokal, aplikasi ini mampu mengakses file, repositori, dan alat bantu yang tersimpan langsung di perangkat. Hal ini memberikan kontrol lebih besar bagi pengguna profesional yang membutuhkan alur kerja yang stabil dan konsisten.
Secara arsitektur, Berd bukanlah model AI baru, melainkan lapisan orkestrasi yang dibangun menggunakan kerangka kerja Tauri 2 dan React 19. Aplikasi ini berkomunikasi dengan Goose, framework agent open-source yang diperkenalkan Block awal tahun ini, melalui standar Agent Client Protocol (ACP). Dengan cara ini, Berd berfungsi sebagai pengatur konteks, sementara Goose menangani eksekusi loop AI di latar belakang.
Salah satu fitur pembeda Berd adalah pendekatan visual terhadap identitas AI. Alih-alih menyajikan semua agen sebagai jendela obrolan yang seragam, Berd memberikan karakter visual—yang dijuluki 'Gloopies'—beserta peran, keterampilan, dan alat yang terdefinisi jelas. Ini membantu pengguna membedakan agen berdasarkan fungsi spesifiknya, seperti agen pengoreksi naskah atau pengambil keputusan, sebelum memulai percakapan.
Di industri teknologi Indonesia, adopsi AI agent masih didominasi oleh solusi berbasis SaaS yang terfragmentasi. Banyak pengembang dan praktisi data di tanah air masih harus mengandalkan berbagai tab peramban untuk menjalankan tugas yang berbeda. Kehadiran Berd menawarkan model kerja baru yang lebih terstruktur bagi developer lokal yang menginginkan privasi data lebih tinggi karena penyimpanan riwayat percakapan dilakukan secara lokal.
Bagi perusahaan di Indonesia yang mulai mengadopsi AI dalam alur kerja internal, aplikasi seperti Berd bisa menjadi solusi untuk mengatasi kebocoran konteks. Seringkali, efisiensi kerja menurun karena pengguna harus mengulang instruksi atau mengunggah ulang dokumen setiap kali berpindah model AI. Berd meminimalisir hambatan tersebut dengan fitur proyek persisten yang menjaga konteks tetap utuh.
Meski demikian, tantangan utama bagi pengguna di Indonesia adalah kurva pembelajaran. Berd menuntut pengguna untuk lebih memahami konfigurasi teknis dibanding sekadar menggunakan chatbot instan. Pengguna perlu mengonfigurasi penyedia AI (AI provider) dan integrasi yang relevan agar aplikasi ini berfungsi optimal, sebuah langkah yang mungkin dianggap cukup teknis bagi pengguna awam.
Lucinda Bell dari tim komunikasi teknologi Block menyatakan bahwa Berd memberikan konsistensi yang sangat dibutuhkan oleh tim internal mereka. Dengan menyatukan berbagai model di bawah satu atap, tim dapat lebih fokus pada hasil pekerjaan daripada harus menyesuaikan diri dengan antarmuka yang berbeda-beda setiap kali berganti model.
Ke depan, fokus Block adalah memperkuat ekosistem open-source ini agar lebih mudah diadopsi oleh komunitas developer global. Dengan lisensi Apache 2.0, tidak tertutup kemungkinan bagi komunitas pengembang untuk membuat plugin atau integrasi tambahan yang sesuai dengan kebutuhan lokal di pasar seperti Indonesia, seperti integrasi dengan alat bantu kolaborasi lokal atau standar keamanan data yang lebih spesifik.
Tren penggunaan AI agent diprediksi akan bergeser dari sekadar chatbot interaktif menjadi agen yang mampu melakukan tindakan (agentic workflow). Berd diposisikan tepat di tengah tren ini, memfasilitasi transisi dari sekadar bertanya menjadi eksekusi tugas yang kompleks secara langsung di workstation pengguna.
Sebagai aplikasi desktop-first, Berd memang tidak ditujukan untuk mobilitas tinggi, mengingat Block sudah memiliki platform Buzz untuk kebutuhan kerja saat bepergian. Namun, bagi pekerja kantoran dan programmer, Berd menawarkan stabilitas dan visibilitas operasional yang selama ini hilang dari solusi AI berbasis web yang cenderung tertutup.