Teheran tetap memasok pasar global meski perang dengan Washington memanas. Lembaga pemantau maritim Tanker Trackers mencatat pengiriman lebih dari 80 juta barel minyak mentah dan produk olahan dalam 26 hari terakhir. Nilai pengapalan tersebut mencapai 6 miliar dolar AS atau sekitar Rp108 triliun selama empat pekan.
Pengiriman masif ini terjadi berbarengan dengan pengerahan kembali blokade Angkatan Laut AS yang dilakukan lebih dari sebulan lebih cepat dari jadwal semula. Kendati armada perang Amerika berjaga, jutaan barel lainnya masih tertahan menunggu keberangkatan menuju pelabuhan tujuan di berbagai negara.
Ketegangan di Selat Hormuz memicu eskalasi militer antara kedua negara. Departemen Keuangan AS sebelumnya menyetujui pencabutan sanksi penjualan minyak Iran selama 60 hari sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata. Penangguhan itu berakhir prematur ketika Washington menjatuhkan sanksi baru pada 7 Juli, bersamaan dengan serangan militer AS terhadap fasilitas di Iran.
Langkah agresif Amerika merupakan balasan atas serangkaian serangan terhadap kapal komersial di perairan strategis Selat Hormuz. Jalur ini merupakan penyuplai utama sepertiga kebutuhan energi dunia, sehingga gangguan langsung berdampak pada fluktuasi harga komoditas global.
Menurut catatan Tanker Trackers, sekitar 30 juta barel minyak mentah Iran belum berangkat akibat pengetatan blokade tersebut. Di sisi lain, Teheran memiliki cadangan penyimpanan terapung berkapasitas lebih dari 60 juta barel di dalam perimeter blokade jika produksi harus dikurangi.
Bagi Indonesia, stabilitas pasokan minyak dari Timur Tengah menjadi faktor krusial mengingat negeri ini mengimpor mayoritas kebutuhan energi domestiknya. Gangguan di Selat Hormuz berpotensi mengerek harga minyak mentah dunia, yang pada gilirannya akan menekan neraca perdagangan dan memperbesar beban subsidi BBM dalam negeri.
Produsen minyak nasional seperti Pertamina kerap menyesuaikan harga pokok produksi dengan indeks minyak internasional. Jika ekspor Iran terus mengalir dan menekan harga global, ruang fiskal negara sedikit terbantu. Namun, ketidakpastian geopolitik membuat volatilitas harga sulit diprediksi para pengambil kebijakan di Jakarta.
Masyarakat Indonesia secara langsung merasakan dampak melalui fluktuasi harga bahan bakar dan tarif logistik. Ketergantungan pada impor membuat ekonomi domestik sangat rentan terhadap guncangan eksternal, terlebih jika rantai pasok di Selat Hormuz benar-benar terputus total di masa depan.
Menteri Perminyakan Iran Mohsen Paknejad menegaskan bahwa ekspor minyak Teheran akan berlanjut seperti biasa meski sanksi Washington diberlakukan kembali. Ia mengklaim Iran telah lama membangun struktur yang diperlukan untuk melawan dampak embargo Amerika.
"Mekanisme ini tidak dilucuti selama masa penangguhan 60 hari dan tetap berlaku," ujar Paknejad merujuk pada skema perdagangan alternatif yang dirancang sejak era sanksi sebelumnya. Pernyataan tersebut menunjukkan keyakinan Teheran bahwa blokade militer tidak akan menghentikan roda ekonomi sektor hidrokarbon mereka.
Ke depan, pergerakan kapal tanker di Selat Hormuz akan menjadi indikator utama bagi pemulihan atau memburuknya krisis energi global. Apabila AS terus memperketat penjagaan, Iran memanfaatkan jaringan penyimpanan terapung dan mitra dagang non-Barat guna mempertahankan volume ekspor.
Tren ini menggarisbawahi pergeseran peta geopolitik energi, di mana sanksi unilateral semakin sulit dijalankan tanpa dukungan seluruh blok maritim internasional. Pasar minyak global mungkin akan terbiasa dengan dinamika pasokan dari Iran yang tetap mengalir di tengah riuh tembakan perang.